
DENPASAR – Alunan nada dari bilah bambu berpadu dengan bilah logam membawa pengunjung PKB ke 48 tahun 2026 terasa ke Bali tempo dulu. Dari kalangan Angsoka, suara itu menyayup ke sudut kawasan Taman Budaya Art Center Denpasar sore itu, Rabu (24/6/2026).
Suara itu keluar dari nada seperangkat alat musik kuno. Namanya Gong Saron Blambangan. Dimainkan dengan cara di pukul. Saat matahari mulai miring ke barat, 16 laki-laki duduk di atas karpet merah panggung kehormatan kalangan Angsoka. Semua berasal dari Banjar Seseh, Desa Singapadu, kabupaten Gianyar.
Diantara belasan pemain alat musik itu, adalah Wayan Sumatra, usianya 68 tahun. Pria paling menonjol diantara grup itu. Kulit keriput, warnanya sudah terbakar matahari. Bahunya sudah membungkuk, pengeliahatan mulai menurun. Selaput tipis telah menempel diantara bola matanya. Namun kedua tangannya nampak lincah memainkan bilah gambelan.
Diusia senja, selain sebagai petani, Sumatra di desanya ia juga dikenal sebagai pemain Gambelan Saron paling tua.
“Memainkan Gambelan Saron adalah panggilan jiwa saya untuk menjaga warisan leluhur, ” ujarnya usai penampilan sore itu.
Menurutnya keberadaan Gambelan Saron Blambangan ini sudah melewati lebih dari tiga generasi. Ia mengetahui cerita itu dari kakeknya, yang juga seka dalam grup Gambelan itu.
“Saya tau dari kakek saya, karena menggantikan kakek di seka ini, ” ujar kakek empat cucu ini.
Tak banyak pasang mata yang menyaksikannya. Namun irama itu bisa dinikmati oleh seluruh pengunjung dari kejauhan. Sakeng lembutnya nada keluar, Kantuk yang tak tertahankan menghampiri sejumlah penonton.
Konon keberadaan Gambelan Saron Blambangan ini diperkirakan merupakan hasil rampasan perang Kerajaan Sangsi di bawah Kerjaan Mengwi ketika berperang melawan Kerajaan Blambangan dari ujung Pulau Jawa.
“Sampai saat ini dinamakan Gong Saron Blambangan Banjar Seseh,” ujar Putu Suyadnya, kordinator sekaa.
Sekaanya hanya berjumlah 16 orang. Tidak hanya instrumennya yang diwariskan, tradisi menabuh juga berlangsung secara turun-temurun.
Dalam komunitas tersebut dikenal istilah ‘tegak’, yaitu garis keturunan keluarga yang memiliki hak menjadi penabuh dalam Sekaa Gong Saron.
Putu Suyadnya sendiri merupakan salah satu keturunan pemilik tegak yang mewarisi tradisi tersebut dari kakeknya. Sesuai jumlah penabuh dalam satu barungan Gong Saron.
“Kalau ada anggota yang mau mundur harus ada pengganti dari keturunan itu, atau anggota baru namun harus ada izin dari pemilik tegak, ” jelasnya.
Sekaa ini lestari lintas generasi, pemain paling mudanya adalah I Kadek Sudirman, umurnya baru 25 tahun. Awalnya tidak tertarik, namun karena harus menggantikan kakeknya, ia pun akhirnya terjun,dan menjadi pemain Gong Saron hingga kini.
“Awalnya saya tidak tertarik, tapi karena tanggung jawab dan warisan leluhur, akhirnya paling muda disini, ” ujar kadek yang tamatan KOKAR ini.
Ia mengatakan Gong Saron ini merupakan gamelan berlaras pelog tujuh nada. Tergolong gambelan tua. Secara material memadukan bahan-bahan dari kerawang, kulit, kayu, dan bambu dengan karakteristik menggunakan saih atau patet Mayura, Panji Gede, Panji Cenik, Wargasari, Delodpangkung, dan Patemon.
Biasanya dipentaskan saat upacara pitra yadnya, Ngaben, Ngeroras hingga Memukur. Hingga kini Gong Saron Blambangan ini masih lestari dipentaskan. Sangat relepan dengan PKB ke 48 yang mengusung tema Atma Kerthi Jiwa Paripurna.
Gong yang bermakna guwung yang merepresentasikan semesta, sementara kata luang atau Saron bermakna kosong atau sunia dapat diartikan alam niskala.

Jadi Gong Saron/Luang dapat diartikan sebagai seperangkat gamelan yang nadanya dijadikan sebagai media untuk mengantarkan roh menuju ke alam sumbernya yakni Sangkan Paraning Dumadi.
Meski tak banyak pasang mata yang menyaksikan, namun ratusan pasang telinga, mengakui keindahan pukulan nada yang dihasilkan sekaa lintas generasi itu.
Sore itu mereka membawakan Tabuh Sih Miring, Tabuh Sih Miring digunakan dalam prosesi membangunkan Sang Palatra Atma menuju Bale Petak. Sebagai simbol permohonan penyucian dan jalan terang bagi roh yang telah meninggal.
Gending ini bertujuan mengantarkan roh terbebas dari ikatan duniawi dan menyatu dengan Tuhan atau mencapai alam moksa.
Kemudian ada Tabuh Ginada, Tabuh Ginada atau Cinada dimainkan saat prosesi nedunang layon (menurunkan jenazah) dari Bale Dangin menuju tempat pelaksanaan upacara.
Ketiga Tabuh Lilit, Tabuh Lilit digunakan dalam prosesi nusang atau mreteka layon (memandikan jenazah). Menggunakan Patet Mayura dengan karakter musikal yang khas, magis, dan mengharukan.
Terakhir Tabuh Gilak Sukasti, Tabuh Gilak Sukasti terinspirasi dari kisah Ni Luh Sukasti dan I Gede Basur, salah satu cerita rakyat Bali yang populer dalam pementasan Calonarang.
Kisah ini mengangkat tema cinta yang ditolak, sakit hati, serta penyalahgunaan ilmu hitam. Tabuh ini menggunakan Patet Patemon dengan karakter musikal yang kuat dan dramatik. (*)








