
BULELENG – Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra bersama Forkompinda Buleleng hadiri peresmian Klenteng Ling Goan Kiong, paska restorasi yang dilaksanakan Suka Duka Tempat Ibadah Tri Dharma (TITD) sejak Bulan Juli 2024.
Selain mengapresiasi revitalisasi tempat ibadah sebagai wujud tingginya kesadaran umat beragama, moment tersebut juga dimafaatkan untuk menyampaikan rencana penataan Kota Singaraja sebagai Kawasan Heritage yang akan dimulai Bulan Februari 2026.
“Kita akan tata kawasan dari Titik Nol, Jalan Diponegoro, hingga Pelabuhan Buleleng untuk mengembalikan citra kawasan heritage tanpa menghapus jejak sejarah,” tandas Bupati Sutjidra usai peresmian Restorasi Klenteng Ling Guan Kiong di Kawasan Eks Pelabuhan Buleleng, Jumat (8/8/2025).
Bupati Sutjidra didampingi Wabup Supriatna menegaskan, rencana penataan kawasan heritage dari titik nol, Jalan Diponogoro, hingga Kawasan Eks Pelabuhan Buleleng termasuk Klenteng Ling Guan Kiong yang berusia lebih dari satu setengah abad dilakukan dengan anggaran senilai Rp25 Miliar.
“Revitalisasi mencakup penataan tepian Sungai Buleleng, tanpa menghapus sejarah akan diterapkan secara konsisten. Termasuk penyediaan CCTV dan penataan keamanan kawasan yang merupakan bagian dari komitmen menciptakan lingkungan nyaman bagi wisatawan,” jelasnya.
Revitalisasi ini juga untuk menyiapkan Buleleng dalam menyambut wisatawan asal Taipei sebanyak 12.000/tahun melalui paket charter flight mulai Februari 2026.
Pelabuhan Tua dan Klenteng Ling Guan Kiong, kata Sutjidra, akan menjadi magnet utama dalam paket wisata 3 hari 2 malam yang ditawarkan melalui paket Charter Flight.
“Bersama atraksi lumba-lumba Lovina, Kota Tua Singaraja dan Puri Buleleng,” tandas Sutjidra diapresiasi Wira Sanjaya.
Selaku Ketua TITD Ling Guan Kiong, Wira Sanjaya yang akrab disapa Cong San ini memaparkan, proses restorasi berlangsung selama 18 bulan dengan total dana sebesar Rp3,4 Miliar.
“Sekitar 88 persen diantaranya berasal dari sumbangan umat dan simpatisan. Kami mengganti 90 persen struktur kecuali tembok lama. Atap, pilar soko guru, hingga ornamen menggunakan kayu merbau asal Papua untuk mempertahankan filosofi material alam,” jelasnya.
Dengan teknologi digital, kata Cong San, lukisan dinding Samkok dipindai ulang dan dicetak pada kramik untuk memastikan preservasi jangka panjang.
“Langkah revitalisasi klenteng ini menjadi penanda dimulainya era baru dimana warisan sejarah tak sekadar dilestarikan, tapi dihidupkan sebagai nadi ekonomi dan kebanggaan kolektif masyarakat Buleleng,” pungkasnya. (kar/jon)








