
KLUNGKUNG– Suasana sore di Desa Adat Dalem Setra Batununggul, Desa Batununggul, Kecamatan Nusa Penida, Jumat (8/8/2025), berubah menjadi penuh warna dan semangat. Memasuki hari kedua pelaksanaan Surya Metu Fest 2025, ibu – ibu yang tergabung dalam Pasikian Krama Istri (Pakis) dari lima banjar di desa adat ini menampilkan kebolehan mereka dalam Lomba Gebogan, seni merangkai buah, bunga, dan jajanan tradisional menjadi persembahan nan indah sekaligus sarat makna spiritual.
Tepat pukul 15.00 Wita, lomba dimulai. Para peserta yang mengenakan kebaya warna cerah tampak anggun sekaligus bersemangat, membawa gebogan hasil kreasi terbaiknya. Masing-masing banjar mengirim dua tim, dengan setiap tim terdiri dari dua orang.
Ketua Panitia Surya Metu Fest, I Dewa Gede Ardha Kencana, mengatakan lomba gebogan menjadi salah satu rangkaian acara tahunan yang selalu dinantikan. “Peserta sangat antusias, bahkan dari tahun lalu sudah terlihat keterampilan mereka semakin baik. Kreasi yang ditampilkan tetap mengikuti pakem, karena gebogan adalah bagian dari upakara. Dari lomba ini, kita belajar gebogan bukan sekadar rangkaian buah dan jajan, tetapi mengandung esensi dan makna spiritual,” ujarnya.
Sementara itu, tim juri Ida Bagus Gede Surya menegaskan penilaian tidak hanya melihat keindahan, tetapi juga kesesuaian dengan aturan adat.
“Yang utama adalah penampilan gebogan secara utuh dari bawah hingga cili di bagian atas. Keserasian, keseimbangan, dan keutuhan kombinasi buah serta jajanan menjadi poin penting. Tahun ini kreativitas peserta meningkat pesat dibanding tahun sebelumnya,” jelasnya.
Bagi para peserta, lomba ini menjadi ajang pembelajaran sekaligus kebanggaan. Desak Gede Darmawati, salah satu peserta, mengaku senang dapat ikut berpartisipasi.
“Saya sangat antusias. Ada pengalaman berharga dan pemahaman lebih dalam tentang bagaimana membuat gebogan yang indah, sesuai pakem, sekaligus memadukan unsur seni dan upakara dalam satu kesatuan,” ungkapnya sambil tersenyum sumringah.
Lomba gebogan di Surya Metu Fest bukan sekadar kompetisi estetika, tetapi juga wujud pelestarian tradisi, ruang berkreasi bagi generasi muda, dan pengingat akan filosofi luhur di balik setiap persembahan. (yan)








