
KUTSEL – Pagar proyek kini tampak menghiasi sudut persimpangan Jalan Kampus Unud dengan Jalan Prabu Udayana (Simpang Unud). Lokasi tersebut nantinya akan menjadi titik berdirinya Monumen Prabu Udayana, yang diproyeksikan sebagai landmark baru Universitas Udayana (Unud).
Mengutip siaran pers yang dikeluarkan Unud, monumen tersebut akan dijadikan simbol identitas kampus yang berbasis budaya dan peradaban Bali. Pembangunannya tidak semata dimaknai sebagai pembangunan fisik, melainkan bagian dari upaya menghadirkan ruang akademik yang tetap terhubung dengan sejarah, budaya, dan jati diri bangsa di tengah arus globalisasi.
Langkah ini sejalan dengan arah penguatan riset sejarah dan kebudayaan nasional yang saat ini juga menjadi perhatian strategis Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Dalam paparan Kepala BRIN RI mengenai “Sejarah dan Budaya sebagai Rute Peradaban dan Energi Potensial Bangsa”, ditegaskan bahwa sejarah dan budaya bukan sekadar memori masa lalu, melainkan fondasi identitas nasional, instrumen pembangunan karakter bangsa, sekaligus energi strategis menghadapi masa depan.
Paparan tersebut juga menyoroti berbagai tantangan yang dihadapi bangsa saat ini, mulai dari krisis literasi sejarah dan kebudayaan di kalangan generasi muda, dominasi perspektif eksternal terhadap narasi Indonesia, hingga derasnya arus globalisasi yang berpotensi mengikis ketahanan budaya lokal.
Karena itu, sebagai perguruan tinggi yang lahir dan tumbuh di Bali, Unud memandang penting menghadirkan simbol-simbol ruang publik kampus yang mampu menghubungkan sivitas akademika dengan akar sejarah dan kebudayaannya sendiri. Nama Prabu Udayana dipilih karena memiliki keterkaitan kuat dengan sejarah dan perjalanan peradaban Bali. Sosok Sri Dharma Udayana Warmadewa dikenal sebagai figur penting dalam sejarah Bali yang merepresentasikan kepemimpinan, kebijaksanaan, dan harmonisasi budaya.
Dalam dokumen perencanaan disebutkan, monumen ini dirancang sebagai landmark resmi Unud yang mencerminkan filosofi dan jati diri kampus berbasis budaya Bali. Rektor Unud, Prof Ir I Ketut Sudarsana ST PhD menyampaikan, kampus modern tidak cukup hanya membangun infrastruktur akademik, tetapi juga harus membangun kesadaran peradaban dan identitas budaya generasi muda.
“Perguruan tinggi memiliki tanggung jawab menjaga kesinambungan pengetahuan, sejarah, dan budaya. Monumen Prabu Udayana diharapkan menjadi pengingat bahwa kemajuan ilmu pengetahuan harus tetap berpijak pada nilai-nilai budaya dan jati diri bangsa,” sebutnya.
Selain memiliki makna simbolik dan edukatif, pembangunan kawasan monumen juga menjadi bagian dari penataan lingkungan kampus agar lebih tertata, representatif, aman, dan nyaman. Kawasan tersebut dirancang mencakup penataan pedestrian, lanskap, ruang terbuka, serta pengaturan sirkulasi di area bundaran utama kampus.
Pembangunan ini ditegaskan tidak akan mengganggu anggaran pendidikan maupun layanan akademik mahasiswa. Pembiayaannya berasal dari bantuan Pemerintah Provinsi Bali sebagai bentuk dukungan terhadap penguatan identitas budaya dan kawasan pendidikan di Bali.
Ke depan, monumen ini diharapkan menjadi ruang refleksi bersama bahwa kampus bukan hanya pusat pendidikan dan riset, tetapi juga penjaga memori kolektif, peradaban, dan karakter bangsa. (adi)








