
KUTA – Setelah mendapatkan akreditasi WSO Angels sejak 2025, Siloam Hospitals Bali kembali memperkuat komitmennya sebagai Stroke Ready Hospital melalui perolehan Clinical Care Program Certification (CCPC) for Stroke dari Joint Commission International (JCI). Sertifikasi Internasional ini diberikan kepada rumah sakit yang dinilai memiliki sistem penanganan stroke komprehensif, mulai dari layanan kegawatdaruratan, diagnosis cepat, tindakan medis, hingga rehabilitasi pasien.
Stroke sendiri masih menjadi salah satu tantangan kesehatan utama di Indonesia. Data menunjukkan stroke merupakan penyebab utama kecacatan dan menyumbang 18,5% dari total kematian di Indonesia. Dalam penanganan stroke, terdapat golden period sekitar 4,5 jam sejak timbulnya gejala untuk memberikan terapi pada pasien stroke iskemik yang memenuhi indikasi. Karena itu, setiap menit memiliki arti yang sangat penting. Semakin cepat pasien mendapatkan diagnosis dan terapi yang tepat, semakin besar peluang untuk mengurangi risiko kecacatan serta meningkatkan kualitas hidup, sehingga dibutuhkan rumah sakit dengan sistem penanganan stroke yang cepat, terintegrasi, dan didukung koordinasi multidisiplin.
Sertifikasi ini bukan sekadar pengakuan terhadap rumah sakit, tetapi menjadi jaminan bahwa pasien akan ditangani melalui sistem pelayanan yang telah dirancang untuk mempercepat proses diagnosis, pengambilan keputusan medis, hingga pemberian terapi sesuai kondisi masing-masing pasien. Pencapaian ini tercermin dari kesiapan program layanan stroke di Siloam Hospitals Bali yang mencakup alur pelayanan yang terintegrasi mulai dari penanganan di instalasi gawat darurat, pemeriksaan radiologi dan laboratorium, terapi reperfusi sesuai indikasi, perawatan intensif, rehabilitasi medik, hingga edukasi bagi pasien dan keluarga. Seluruh proses tersebut dijalankan berdasarkan pedoman klinis berbasis bukti (evidencebased practice) serta dievaluasi secara berkelanjutan untuk memastikan kualitas pelayanan dan hasil klinis tetap terjaga.
Hospital Director Siloam Hospitals Bali, dr. Ni Gusti Ayu Putri Mayuni mengatakan, sertifikasi ini merupakan validasi terhadap sistem pelayanan yang selama ini dibangun untuk memberikan manfaat nyata bagi pasien. “Bagi kami, sertifikasi ini bukanlah tujuan akhir, melainkan pengakuan bahwa sistem pelayanan stroke yang kami bangun telah memenuhi standar internasional. Yang terpenting adalah bagaimana standar tersebut diterjemahkan menjadi pelayanan yang cepat, aman, terkoordinasi, dan memberikan peluang pemulihan yang lebih baik bagi setiap pasien. Kami akan terus melakukan evaluasi dan peningkatan berkelanjutan agar masyarakat dapat memperoleh layanan stroke berkualitas tinggi tanpa harus meninggalkan Indonesia,” ujarnya.
Selain didukung tenaga medis berpengalaman, Siloam Hospitals Bali juga dilengkapi fasilitas diagnostik, layanan pencitraan, laboratorium, serta sistem koordinasi klinis yang memungkinkan pasien memperoleh penanganan dalam waktu yang optimal. Melalui pendekatan tersebut sudah tercatat 44 kasus sejak bulan Agustus 2025 sampai Januari 2026 dengan persebaran 9% (4 pasien) diberikan penanganan trombolisis intravena dan 2.3% (1 pasien) dilakukan penanganan trombektomi mekanik. Dari data tersebut 93% pasien dinyatakan membaik.
Hasil ini menunjukkan bagaimana sistem pelayanan yang cepat, terkoordinasi, dan berbasis bukti dapat meningkatkan peluang pemulihan sekaligus mengurangi risiko kecacatan. Sebagai bagian dari Siloam International Hospitals , Siloam Hospitals Bali menerapkan standar pelayanan yang konsisten di seluruh jaringan rumah sakit melalui tata kelola klinis yang terintegrasi, kolaborasi multidisiplin, serta komitmen terhadap keselamatan pasien. Pencapaian Clinical Care Program Certification semakin memperkuat komitmen tersebut dalam menghadirkan layanan kesehatan yang berkualitas dan berpusat pada pasien.
Melalui pencapaian ini, Siloam Hospitals Bali menegaskan komitmennya untuk terus menghadirkan layanan stroke yang cepat, aman, dan komprehensif, sehingga masyarakat dapat memperoleh penanganan yang tepat sejak menit-menit pertama yang sangat menentukan perjalanan pemulihan pasien.*








