
KUTSEL – Jalan Raya Nusa Dua Selatan yang dikenal sebagai jalur kawasan perhotelan elite, kini mulai dihadapkan pada persoalan sampah liar. Sejumlah titik di jalur pariwisata itu tampak dikotori tumpukan sampah yang belum diketahui asal maupun pelakunya.
Kepala Lingkungan Sawangan, I Wayan Jabut mengungkapkan, kondisi ini semakin parah setelah sejumlah wilayah lain mulai memperketat pengawasan terhadap aksi pembuangan sampah sembarangan. Akibatnya, kawasan Sawangan diduga menjadi lokasi pelarian bagi oknum-oknum yang mencari tempat sepi untuk membuang sampah secara ilegal.
“Kita yang sekarang jadi sasaran. Titik terparah itu ada pada ruas jalan setelah Kempinski menuju arah Pandawa. Di sana, kanan dan kiri jalan seakan-akan dimanfaatkan untuk pembuangan sampah. Perkiraan kami, itu dilakukan pada dini hari,” sebutnya.
Jika dikumpulkan, volume sampah liar tersebut diperkirakan mencapai satu dump truk. Identifikasi akan segera dilakukan, untuk mengetahui sumber sampah. Apakah itu merupakan sampah event, hotel, ataukah sampah rumah tangga. “Kita akan segera lakukan identifikasi,” ucapnya.
Persoalan ini dinilai perlu mendapat perhatian serius, apalagi masyarakat Sawangan selama ini rutin melakukan pembersihan lingkungan. Upaya ini bahkan melibatkan tenaga kebersihan hingga karyawan akomodasi wisata sekitar.
Sebagai langkah antisipasi, pengawasan di wilayah Sawangan rencananya akan diperketat. Bahkan sebagai motivasi keterlibatan masyarakat, warga yang berhasil memergoki serta mengamankan pelaku pembuangan sampah sembarangan akan diberikan semacam reward.
“Jadi jangan sampai kita seolah-olah diperbudak oleh oknum-oknum nakal ini. Mereka nyaman membuang sampah sembarangan, sementara kita setiap minggu mengerahkan semua elemen, baik buruh proyek hingga karyawan hotel, untuk melakukan bersih-bersih di sepanjang jalan,” ucapnya.
Pengetatan pengawasan dinilai penting agar aksi pembuangan sampah sembarangan tidak dianggap sebagai hal yang lumrah. Selain mengganggu kebersihan kawasan wisata, keberadaan sampah liar juga dikhawatirkan merusak citra jalur pariwisata premium di kawasan Nusa Dua Selatan. (adi)








