
LABUAN BAJO – Wakil Ketua Komunitas Grab Komodo Cama Laing Labuan Bajo, Leonardus Efendi, menyayangkan insiden penganiayaan yang dialami seorang driver ojek online (ojol) di Labuan Bajo, belum lama ini. Ia menilai, peristiwa tersebut tidak hanya merugikan korban, tetapi juga mencoreng citra pariwisata Indonesia.
Menurut Leonardus, sebagai destinasi super prioritas, keamanan dan kenyamanan di Labuan Bajo seharusnya lebih terjamin, tidak hanya bagi wisatawan, tetapi juga bagi para pelaku transportasi. “Hal ini jelas mencederai rasa aman bagi mitra pengemudi yang sedang bekerja,” sebutnya.
Ia pun mendesak aparat penegak hukum untuk bertindak tegas dan memastikan proses hukum berjalan tuntas. “Tentu kami meminta pelaku diproses sesuai hukum yang berlaku. Harus ada efek jera, supaya ke depannya tidak ada lagi intimidasi atau kekerasan terhadap driver di area publik,” dorongnya.
Leonardus mengakui, upaya mediasi telah dilakukan oleh Dinas Perhubungan dan kepolisian. Namun demikian, ia menilai evaluasi menyeluruh terkait transparansi dan optimalisasi sistem pelayanan di kawasan bandara tetap perlu dilakukan.
Menurutnya, langkah evaluasi yang tegas dan komprehensif, menjadi kunci agar kejadian serupa tidak terulang. Hal ini sekaligus penting untuk menjaga citra Labuan Bajo sebagai destinasi unggulan Indonesia. “Tujuan kita sama. Ingin Labuan Bajo ini aman dan nyaman bagi siapa saja. Kami siap berkolaborasi, untuk memastikan pelayanan terbaik bagi tamu yang datang,” pungkasnya.
Selain berdampak pada citra pariwisata, insiden tersebut juga menimbulkan trauma bagi korban, Donatus Darso. Akibat kejadian itu, Donatus bahkan memilih untuk tidak bekerja sementara waktu. “Trauma. Sudah dua hari tidak kerja,” sebut Donatus.
Ia pun berharap aparat penegak hukum dapat mengusut tuntas kasus yang dialaminya. Meski demikian, ia menyadari bahwa penangkapan pelaku nantinya tidak serta-merta menghilangkan rasa traumatis yang dirasakannya.
Donatus kemudian menceritakan kronologi kejadian. Peristiwa bermula saat dirinya menerima pesanan untuk menjemput seorang wisatawan perempuan asal Eropa di Bandara Komodo, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur.
Dalam proses penjemputan, ia mengarahkan titik temu di depan sebuah minimarket yang lokasinya cukup jauh dari pintu keluar bandara. Penumpang tersebut menyetujui dan datang ke lokasi dimaksud.
Namun, saat penumpang tiba, Donatus didatangi sekelompok orang yang diduga anggota AWSTAR. Orang-orang tersebut membentak dan meminta penumpang turun dari sepeda motor. Situasi tersebut kemudian berujung pada aksi penganiayaan terhadap dirinya.
Laporan terkait kejadian tersebut kabarnya telah sampai di pihak kepolisian Polres Manggarai Barat. Saat ini, aparat masih melakukan pendalaman dengan fokus pada identifikasi pelaku serta pengungkapan motif di balik aksi kekerasan tersebut. Jumlah pelaku diperkirakan berkisar antara tujuh hingga sembilan orang. (adi)








