
Oleh : Windia Berata
Upacara bukanlah kesibukan lahiriah,ia adalah cermin perjalanan batin manusia.
Kita memulai dengan melukat,bukan karena tubuh kotor,tetapi karena pikiran dan rasa sering lelah oleh dunia.Air mengingatkan bahwa hidup perlu dibersihkan,
agar bening kembali melihat makna.
Setelah suci, kita melakukan caru,sebab hidup tidak pernah berdiri sendiri. Ada alam, ada sesama, ada yang tak kasatmata.Harmoni dijaga bukan untuk menaklukkan,melainkan untuk mengakui bahwa keseimbangan adalah kunci damai.
Lalu puja dan puji dipersembahkan, di sini ego belajar menunduk. Bukan manusia yang dimuliakan,tetapi sumber kehidupan. Saat itulah damai tidak diminta ia hadir dengan sendirinya.Dan akhirnya me tirtha.Air suci mengalir sebagai tanda
bahwa cinta kasih-Nya tidak pernah berhenti.
Ia diterima bukan untuk disimpan,melainkan untuk dialirkan kembali dalam sikap, tutur, dan laku hidup.Maka jika upacara selesai namun kesadaran tidak berubah,
sesungguhnya upacara itu belum tuntas.Karena tujuan sejatinya bukan ritual,
melainkan manusia yang semakin suci, selaras, mulia, dan menjadi aliran cinta kasih bagi kehidupan. (*)








