
GIANYAR – Di balik asap tebal dan bara api upacara ngaben, ada kisah lain yang tak banyak diketahui orang. Rasidi (38), seorang pria asal Madura, terlihat sibuk menelisik sisa-sisa pembakaran jenazah. Bukan untuk ritual, melainkan untuk mencari kepingan besi bulat dengan lubang ditengahnya: uang kepeng.
Sudah lebih dari setahun Rasidi menekuni pekerjaan musiman ini. Setiap kali musim pengabenan tiba, ia tahu rejeki akan datang. Dengan berbekal magnet dan karung sederhana, ia telaten memunguti kepingan uang logam kuno yang tersisa di lokasi tempat pengabenan.
“Sudah biasa, Mas. Tidak ada rasa jijik. Yang penting niatnya baik, bukan untuk merusak,” ujarnya ketika ditemui di salah satu lokasi upacara ngaben di Gianyar, Kamis (21/8/2025).
Uang kepeng, dulu menjadi alat transaksi tradisional, saat ini di Bali uang kepeng tetap ajeg menjadi sarana upacara adat. Di pasaran uang kepeng bernilai cukup tinggi. Rasidi hafal betul perbedaannya. Ia mengaku kualitas rendah bisa laku Rp 2.500 – 4.000 per kilogram, sementara uang kepeng asli dengan bahan kuno bisa mencapai Rp 30.000 per kilogram lebih.
“Kalau beruntung dapat yang asli, saya simpan dulu biasanya dia lebih berat, pengepul akan menawar lebih mahal,” jelasnya.
Sekali turun mencari, Rasidi bisa mengantongi hingga 12 kilogram uang kepeng kualitas rendah, atau sekitar 1–2 kilogram yang kualitas bagus. Semua hasil buruannya kemudian ia jual ke pengepul di Gianyar.
Rasidi bukan satu-satunya. Ada banyak “pemburu uang kepeng” lain yang menanti momentum pengabenan besar. Informasi lokasi mereka dapat dari jaringan pertemanan.
“Biasanya info dari teman ke teman. Kalau ada upacara besar, langsung kita datang,” katanya sambil tekun memunguti uang kepeng yang berserakan.
Di tengah kesakralan upacara, Rasidi dan kawan-kawannya hadir sebagai potret lain dari kehidupan. Di tangan mereka, sisa-sisa kepeng bukan sekadar benda mati, melainkan sumber rejeki yang menghidupi keluarga.
Uang kepeng dalam upacara adat Bali dari berbagai sumber menyebutkan dalam setiap upacara adat, uang kepeng hadir sebagai simbol yang sarat makna. Bentuknya yang bulat melambangkan alam semesta, sementara lubang di tengahnya dipercaya sebagai pusat kosmos, penghubung antara manusia dengan Sang Hyang Widhi.
Sejak berabad-abad lalu, uang kepeng menjadi bagian penting dari berbagai yadnya, mulai dari Dewa Yadnya, Manusa Yadnya, hingga Pitra Yadnya seperti ngaben. Dalam upacara pembakaran jenazah, kepingan uang kepeng kerap ikut dibakar sebagai bekal roh menuju alam niskala. Pada ritual lain, uang kepeng dirangkai menjadi gelang, kalung, atau anyaman berbentuk lingkaran sebagai hiasan.
Bagi masyarakat Bali, uang kepeng adalah lambang kesucian dan keseimbangan. Kehadirannya dipercaya menyempurnakan banten, sehingga doa dan persembahan dapat tersampaikan dengan utuh. Karena itulah, meski uang kepeng sudah lama tidak berfungsi sebagai alat transaksi, nilainya dalam kehidupan spiritual tetap tinggi.
Kini, uang kepeng asli semakin sulit ditemukan. Banyak yang menggantinya dengan replika, namun bagi sebagian masyarakat, uang kepeng kuno tetap memiliki kekuatan magis dan nilai spiritual yang tak tergantikan. Di pasar-pasar tradisional, uang kepeng bahkan dijual kiloan untuk keperluan adat, menjadikannya bagian dari dinamika ekonomi sekaligus warisan budaya.
Melihat Rasidi dan kawannya-kawannya berburu uang kepeng di warga pun menduga uang kepeng bekas dipakai Pengabenan itu akan di jual kembali setelah dibersihkan. Meski demikian warga tidak keberatan.
“Toh juga dalam spiritual masyarakat Bali barang bekas upacara kalau sudah masuk pasar ia akan kembali baru dan suci, karena penyupatan Ida Bhatara Melanting, ” Ungkap salah seorang warga di tempat Pengabenan. (jay/jon)








