
KLUNGKUNG – Sejarah baru tercipta di Merajan Tengah Griya Cucukan, Desa Selat, Klungkung. Setelah 225 tahun berdiri sejak masa Maha Raja Klungkung I Dewa Agung Putra III, untuk pertama kalinya dilaksanakan Karya Mamungkah, Ngenteg Linggih, dan Mapedudusan Agung.
Ketua Panitia, Ida Bagus Nyoman Putra Biomantara, menyebut upacara ini menjadi momentum sakral yang belum pernah terjadi sejak merajan dibangun. “Sekian lama belum pernah ada penyucian menyeluruh. Renovasi palinggih kali ini dilengkapi dengan pelinggih lain, sehingga dirancang karya agung,” ujarnya.
Persiapan telah dimulai sejak 23 Juli 2025 dengan rangkaian panjang yang memuncak pada 6 Oktober 2025 sebagai Pengebek, Pangenteg, dan Pengodal, lalu berakhir pada 13 Oktober 2025 dengan upacara Nyineb. Total rangkaian mencapai 18 tahap hingga Metirta Yatra pada 18 Oktober 2025.
Dalam prosesi puncak, Ida Bhatara tedun ke bale paselang untuk mapeselang—simbol penciptaan bumi dan kehidupan—dilanjutkan dengan majejiwan yang bermakna pemberian jiwa. Setelah itu, Ida Bhatara kembali ke Utama Mandala, diiringi sarana khusus berupa babi cundang pajyut (babi turus gunung berjidad dan berekor putih).
Makna dan Tujuan
Kelihan Merajan Tengah, Ida Bagus Ketut Putra, menegaskan karya ini sebagai wujud bakti dan rasa syukur kepada leluhur, sekaligus memulihkan taksu yang mulai meredup. “Melalui upacara ini, sinar suci Ida Bhatara kawitan diharapkan kembali terang dan memberi berkah pada keturunan,” jelasnya.
Pembiayaan karya berasal dari iuran wajib 160 KK semeton ngarep sebesar Rp3 juta per KK yang dilunasi sejak Januari–Juli 2025, ditambah punia sukarela berupa uang, bahan upakara, dan tenaga ngayah. Total warga aktif mencapai 600 orang, termasuk yang tinggal di luar Bali maupun luar negeri.
Sejarah Merajan Tengah
Merajan Tengah merupakan merajan kawitan bagi semeton Brahmana Kemenuh Griya Tengah Cucukan, yang leluhurnya berasal dari Griya Kemenuh Kayu Putih Buleleng. Setelah berpindah-pindah, akhirnya menetap di Selat Kawan Klungkung dan membangun Griya Cucukan di puncak desa (muncuk) atas kehendak Ida Bhatara. Merajan ini didirikan oleh Ida Pedanda Gunung, putra dari Ida Pedanda Sangku.
Panitia mengajak seluruh pratisentana di manapun berada untuk datang ngaturang bakti, agar karya agung ini berjalan lancar. “Semoga Hyang Bethara Leluhur selalu menuntun, memberi keselamatan, dan keberkahan bagi kita semua,” tutup Ida Bagus Wikantara, prawartaka karya. (sur)








