
Memasuki hari ketiga Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VII tahun 2025 yang mengangkat tema Semesta Cipta Jagat Kerthi, Harmoni Jagat Bali, pada tanggal 23 Juli, bertempat di Gedung Kerta Saba, di bagian belakang rumah kediaman Gubernur Bali, telah digelar drama modern (biasanya disebut drama klasik) berjudul Mahasenapati Drona.
Drama ini dipersembahkan oleh Sanggar Teater Mini dengan sutradara Ida Bagus Anom Ranuara yang juga pendiri dari grup teater ini. Pada malam itu, di indoor proscenium stage, kesetiaan Resi Drona (Nyoman Sidharta) terhadap Korawa dipertanyanya.
Di hadapan Adipati Awangga Karna (Ida Bagus Cakra), Duryadana dan Dusasana (Agus Putra dan Dewa Alit Saputra), mempertanyakan kesetian sang guru agung, Resi Drona yang telah ditunjuk sebagai Senapati Korawa. Penonton yang berharap untuk menyaksikan aksi-aksi heroik Resi Drona di dalam perang Bharatayudha di tegak Kuruksetra harus puas menyaksikan kisah hidup penuh perjuangan dari Resi Drona.
Sejak memasuki Gedung Kerta Saba, yang di masa lampau merupakan gedung wantilan terbuka, penonton sudah bisa melihat kondisi panggung dengan segala kesiapannya untuk menggelar sebuah produksi seni drama pada malam itu. Di bagian panggung belakang (up stage) terbentang layar lebar untuk penanyangan gambar sebagai latar belakang, Di kaki layar dipasang undag panjang satu level sebagai setting panggung.
Di atas terlihat empat pipa yang digantungi puluhan lampu baru dari berbagai jenis, yang siap untuk menembakkan sinarnya ke arah bagian stage di mana para pelaku beraksi. Di depan panggung (down stage), di atas sebuah level, yang mengingatkan penonton dengan orchestra pit di panggung-panggung modern. sejumlah instrumen gamelan tersusun rapi siap dengan beberapa microphone.
Drama Mahasenapati Drona merupakan sebuah lakon yang mengisahkan kegalauan Prabu Duryadana yang sangat kecewa dengan kekalahan Korawa robohnya Resi Bhisma ditangan Srikandi putra Prabu Pancala. Kekalahan Resi Agung Bhisma menyulut rasa keraguan Prabu Duryadana dan adiknya Dusasana kepada Resi Drona dalam memberi kemenangan kepada pihak Korawa.
Untuk itu, Duryadana dan Dusasana mendesak Adipati Awangga Karna untuk menjadi senapati. Desakan ini tentu saja ditolak mentah-mentah oleh Karna dengan alasan bahwa dirinya menaruh rasa hormat yang melangit terhadap Resi Guru Drona. Guna meyakinkan Karna, Prabu Duryadana menceritakan latar belakang Resi Drona yang kematiannya sudah ditunggu oleh Drestajumena putra Prabu Pencala, sebagaimana halnya robohnya Resi Bhisma di tangan Srikandi. Penggambaran masa lalu Resi Drona inilah yang menjadi bagian utama dari sajian drama bertajuk Mahasenapati Drona ini.
Selain nama-nama yang telah disebutkan di atas, drama Mahasenapati Drona didukung oleh sejumlah pemain handal, beberapa diantaranya sudah lama bermain untuk Teater Mini. Nama-nama yang dimaksud antara lain: Ida Bagus Purwasila sebagai Bhagawan Rama Parasu, Anak Agung Ngurah Dipta sebagai Prabu Drupada, Ketut Arsana sebagai Begawan, ditambah dengan pemain-pemain lain seperti Anak Agung Ayu Ngurah Sumitha Ganjali, Ida Ayu Sasrini, Ida Ayu Sita, Ketut Rasmini, Gek Ari, dan Made Rudita. Sebagai penata musik adalah Ketut Lanus dengan Gede Sustrawan sebagai penata artistik.
Melibatkan sejumlah pemain yang telah berpengalaman, yang rata-rata memiliki kemampuan akting dan kualitas suara yang bagus, pertunjukan drama ini berjalan lancar dan mampu memukau penonton yang memenuhi semua tempat duduk yang ada di Gedung Kerta Saba. Penggunaan setting realis, baik yang bergerak maupun yang berupa gambar statis, memperkaya sentuhan visual dari drama ini. Iringan musik yang digarap oleh Ketut Lanus secara umum berhasil memperkuat suasana dramatik dari drama ini.
Selaku Sutradara, Ida Bagus Anom Ranuara, seorang sutradara senior, berhasil menyajikan kisah kehidupan masa muda Resi Drona, yang terkesan serius dan menegangkan berhasil dibawakan dengan sajian drama yang cair menghibur.
Selingan humor-humor segar dan actual membuat sajian drama ini enak dinikmati dan membuat penonton tetap duduk selama durasi pementasan. mudah dapat melewatkan waktu tujuh puluh lima menit yang menjadi durasi pementasan yang digarap dengan pela pemanggungan proscenium. Tak main-main, Guburnur Bali Wayan Koster disertai Putri Suastini Koster, dan beberapa pejabat Pemerintah Provinsi Bali serta para tokoh seni, berhasil dibuat tak beranjak hingga akhir pertunjukan.
Jika ada bagian-bagian dari drama Mahasenapati Drona produksi Sanggar Teater Mini yang perlu diberi catatan, berikut adalah beberapa hal yang kira perlu mendapat perhatian. Masih terlihat ada beberapa gerak pemain yang sedikit kaku karena bergerak dengan tangan kiri dililit selempang. Ada vokal beberapa pemain yang juga kehilangan karakter.
Selingan humor berbahasa Bali, yang dilempar oleh tokoh Gandamana dari Pencala, kiranya perlu dikurangi/dibatasi. Walaupun mampu membuat ketawa penonton, humor-humor seperti ini bisa melemahkan suasana agung dan berwibawa yang telah terbangun sejak awal. Iringan musik yang walaupun menggunakan beberapa instrumen, yang digarap Ketut Lanus, mampu medukung setiap adegan dan perubahan suasana dramatic dalam lakon ini. Akan lebih baik lagi jika vokal solo yang digunakan bukan tembang-tembang macapat khas paarjaan melainkan sekar agung, apalagi jika kalimat-kalimat dipetik dari kakawin.
Sajian drama yang mempersoalkan kesetian seorang tokoh besar seperti Resi Drona kepada Prabu Duryadana dan Korawa tak urung mengingatkan penonton dengan kondisi bangsa dewasa ini dimana banyak tokoh yang tidak bekerja sepenuh hati. Terima kasih Sanggar Teater Mini, dan sutradara Ida Bagus Anom Ranuara, atas suguhan drama modernnya yang apik dan menarik dengan nuansa budaya Bali yang masih kental. Masyarakat tetap menunggu produksi Sanggar Teater Mini yang mampu menambah semarak kehidupan seni pertunjukan Pulau Dewata. (*)








