
BULELENG – Tahapan pesta demokrasi, menuju Hari Pemungutan Suara Pilkada Serentak tahun 2024 tanggal 27 November 2024 disikapi Senator Bali, Made Mangku Pastika dengan menggelar dikusi bertajuk ‘Jengah Merebut Simpati Rakyat untuk Meningkatkan Kesejahteran (JMSRMK)’.
Tak hanya menyerap aspirasi sesuai tupoksi sebagai anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Republik Indonesia, melalui dikusi melibatkan politisi, tokoh masyarakat serta akademisi dari Undiksha Singaraja dan STAH Negeri Mpu Kuturan Singaraja juga diharapkan dapat membangkitkan rasa jengah sebagai warga masyarakat Buleleng.
“Pertemuan ini masih awal, kita ingin mempertemukan para tokoh Buleleng, baik yang di Denpasar maupun yang dimana saja, untuk menggugah rasa jengah masyarakat Buleleng yang mungkin mulai luntur, mungkin ya,” ungkap Irjen. Pol. (Purn) Made Mangku Pastika usai diskusi di SMA Taruna Mandara di Jalan A. A. Panji Tisna Desa Kaliasem – Kawasan Wisata Lovina, Selasa (16/4/2024).
Mengutip ihktiar buku ‘Jengah & Transformasi Nilainya’ karya Mayjen TNI (Purn) Putu Sastra Wingarta, mantan Gubernur Bali ini menegaskan rasa jengah sebagai modal masyarakat Buleleng harus dibangkitkan.
“Modal dasar, modal kita yang paling utama, masyarakat Buleleng rasa jengahnya itu, yang mungkin sudah mulai luntur. Saya ingin membangkitkan itu dengan mengundang teman-teman, kesimpulan pertemuan ya semua jengah ternyata,” tandasnya.
Semua merasa potensi Buleleng besar, daerah teritorial paling luas, sumber daya manusia melimpah orang-orang hebat semua.
“Maaf ya, kalau bicara TNI/Polri, yang paling banyak jenderalnya itu dari Buleleng untuk Bali, itu kalau ukuran TNI/Polri. Profesornya segudang, doktornya seabrek, hebat. Tapi, kenapa angka-angka pembangunan yang disampaikan pak Nyoman (Sugawa Korry) seperti itu, bertahun-tahun, apa sesungguhnya yang terjadi, apa yang salah. Mari kita secara jujur dan sabar, rendah hati mengoreksi itu, melihat itu,” ujarnya.
Mantan Kapolda Bali ini mengajak agar masyarakat Buleleng tidak mabuk dengan keunggulan yang dimiliki seperti sebutan Buleleng jagoan.
“Boleh, karena itu memang salah satu modal kita, tapi mari kita instrospeksi apa kelemahan kita. Diskusi ini tentu akan berlanjut dengan kegiatan politik menuju Pilkada Bali dan Buleleng karena tadi, saya sering mengatakan dari dulu ya, by disgn Buleleng itu memang dipinggiri, ingat ndak dulu ada ketentuan Perda bahwa Buleleng itu tidak dikembangkan untuk pariwisata, makanya tidak boleh ada hotel berbintang. Setelah Perda tahun 2009 lah baru ada kawasan pariwisata, baru boleh bikin hotel berbintang.Kenapa, karena dulu diarahkan selatan berkembang untuk kawasan pariwisata, Buleleng cukup menjadi daerah penyangga, industri kecil sehingga orang Buleleng banyak lari ke selatan kerja cari makan,” ungkap Pastika berharap Pilkada Bali maupun Buleleng berjalan dengan baik sesuai dengan ketentuan, regulasi serta norma yang ada.
Dihadapan politisi seperti Nyoman Sugawa Korry, Nyoman Sutjidra, Gede Supriatna, Dewa Nyoman Sukrawan serta tokoh masyarakat Brigjen. Pol (Purn) Nyoman Gede Sweta, Wayan Sudiana serta Ni Luh Jelantik, Gede Suardana dan yang lainnya, Mangku Pastika juga berharap Pilkada Bali tetap melahirkan sosok pemimpin dari Buleleng.
“Dan setiap Pilkada tetap akan lahir satu pasangan pemimpin terpilih baik untuk Bali maupun Buleleng, sementara yang lain saya harapkan ikut mengawasi. Ikut ngasi kritik, jangan bungkam tinggal menggerutu saja terakhir. Orang Buleleng biasanya terus terang, kalau A ya A, kalau B ya B, setuju ya setuju, kenapa tidak setuju kasi jalan keluar. Yang sisanya yang lain yang tidak jadi dua itu, jadilah watchdog, kalau diterjemahkan memang tidak enak, bukan jadi anjing pengawas,” ujarnya.
Artinya, mengawasi supaya pemerintahan demokratis sesuai cirinya transparan, akuntable dan adanya partisipasi publik.
“Untuk ini pers harus bebas, jangan dibungkam dikasi duit kamu diam semua, kan itu yang terjadi selama ini, jangan dong, harus berani bicara,” pungkasnya. (kar/jon)








