
DENPASAR – Jelang digelarnya Pesamuhan Agung Basa Bali ke-8, Dinas Kebudayaan Provinsi Bali menggelar Focus Group Discussion (FGD) selama tiga hari.
Ada sejumlah agenda yang dibahas dalam FGD yang dihelat di Kantor Dinas Kebudayaan Provinsi Bali tersebut. Di antaranya, terkait Pasang Aksara Bali mengahdirkan dua pembicara yaitu I Gde Nala Antara dan Nengah Medera.
Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Bali Prof. Dr. I Gede Arya Sugiartha mengungkapkan, sebelum Pesamuhan Agung Basa Bali yang akan digelar pada Mei 2023 mendatang, sebelumnya didahului dengan kegiatan FGD.
“Pesamuhan Agung ini bertujuan untuk menguatkan dan membumikan basa Bali sekaligus memajukan bahasa Bali, yang selama ini upaya-upaya menguatkan basa Bali, telah kita lakukan, mulai dari perhelatan Bulan Basa Bali, Pergub 80 tentang edaran basa Bali, kemudian lembaga- lembaga basa Bali kita kuatkan, fasilitas juga kita berikan, dimana bahasa Bali perlu maju dan berkembang di masa mendatang,” jelas Dr. Arya Sugiartha, saat pembukaan FGD, Senin (17/4/2023).
Lebih lanjut diungkapkan, digelarnya Pesamuhan Agung Basa Bali dalam rangka memberi ruang bagi masuknya bahasa -bahasa serapan ke basa Bali. Misalnya, masuknya bahasa Indonesia yang diserap ke bahasa Bali, bahasa asing diserap ke basa Bali, termasuk ada ucapan- ucapan yang belum bisa dituliskan ke dalam bahasa Bali. Selain unsur- unsur serapan itu, juga bahasa mana saja diserap dalam basa Bali, yang akan menjadi unsur tambahkan, nanti yang tambahan ini akan menjadi aksara Bali anyar. Jadi pesamuhan ini akan menghasilkan sesuatu yang berharga sekali untuk memajukan bahasa Bali.
“Pesamuhan diikuti Lembaga Bahasa Bali, dari kalangan widyasaba, pemiliet atau para tokoh yang luar biasa yang mengabdikan dirinya memajukan bahasa Bali. Orang-orangnya tidak banyak ini, ini harus kita apresiasi, setelah melahirkan pedoman baru nanti, kita akan kembangkan lagi di masyarakat sehingga basa Bali benar-benar bisa membumi. Nanti juga kita undang para guru bahasa Bali,” kata mantan Rektor ISI Denpasar itu.
Terkait kendala basa Bali yang belakangan semakin jarang digunakan masyarakat. Dr. Arya Sugiartha menyebut hal tersebut merupakan pengaruh dari luar yang sangat kuat, anak-anak baru lahir saja belum tentu diajak berbahasa Bali.
“Membiasakan basa Bali di masyarakat menjadi tantangan. Kalau urusan formal di desa adat, penggunaan Basa Bali sudah berjalan, kemudian acara pernikahan sudah berjalan. Tapi sekarang basa Bali untuk bahasa sehari-hari menjadi fokus ke depan untuk membiasakan lagi basa Bali digunakan oleh masyarakat Bali,” tuturnya.
Sementara itu, Ketua Lembaga Bahasa, Aksara dan Sastra Bali Prof. Dr. I Nyoman Suarka menjelaskan, tujuan dari Pesamuhan Agung yang dirancang tahun 2023, sebenarnya harus dilihat dari segi histori. Bahwa harus disadari, saat ini sudah ada generasi yang berada dari lintas peralihan, antara generasi tua dan milenial. Jadi pesamuhan agung ini bisa melahirkan pemikiran baru di bidang bahasa, aksara dan sastra, khususnya di bidang aksara Bali.
“Perkembangan anak- anak generasi muda Bali saat ini, harus bisa memprediksi bagaimana pengucapannya, termasuk dalam basa Bali tidak akan sama lagi dengan ucapan orang tuanya dulu. Karena anak -anak sekarang sudah lahir dari generasi dengan pendidikan yang masiv, mereka terlatih dan terdidik untuk mengucapkan vocal yang benar. Ini masalahnya, sehingga pengaruh bahasa asing dan bahasa Indonesia yang masuk begitu deras ke Bahasa Bali ini harus diantisipasi dalam Bahasa Bali,” ucap Guru Besar Fakultas Ilmu Budaya Unud itu.
“ Contohnya, kata FGD bagaimana menuliskan FGD dalam Bahasa Bali, inikan bukan generasi yang dulu lagi, zamanya saya ini kita sebut sangkep atau darmatula, tapi generasi sekarang FGD, bagaimana F ini ditulis ke dalam basa Bali, dalam pesamuhan agung ini kita bahas dan harus melahirkan inovasi. Inovasi aksara apa, bukan menghilangkan kekeramatan aksara Bali, melainkan bagaimana caranya untuk memajukan basa Bali agar kita tetap melestarikan,” bebernya.
Menurutnya, di Bali terdapat tiga aksara, pertama aksara swalalita yang diadopsi dari Bahasa sanserkerta dan Bahasa kawi, kedua aksara wresastra, ketiga muncul aksara Bali Anyar. Jadi aksara Bali anyar tidak menggangu kedudukan aksara swalalita dan wresastra.
“Sehingga kita sebagai generasi muda bisa memiliki inovasi, aksara Bali itu benar-benar bisa digunakan oleh generasi kita kedepan bukan ke belakang,” kata Prof. Suarka.
Ia menambahkan, ada beberapa komponen huruf atau aksara dalam pengembangan kekinian misalnya huruf X, F, Q, aksara ini sebagai bentuk pengembangan inovasi sehingga menjadi ciri baru, bahwa basa Bali itu dinamik, mengikuti zamanya.
“Dalam pesamuhan nanti kita sepakati pemikiran -pemikiran ini lalu kita mengeluarkan pedoman, jadi pedoman pasang aksara Bali, pedoman huruf latin dan kemudian unsur serapan, sekarang kan kita melihat dilapangan kesulitan apabila menulis di papan nama, nah melalui Pesamuhan Agung nanti kita bisa berikan panduanya ke masyarakat,” tandasnya. (sur)








