
DENPASAR – Kemudahan yang ditawarkan perdagangan online, tak bisa dipungkiri telah membuat bisnis e-Commerce ini berkembang semakin pesat. Bisnis berbasis digital ini banyak digandrungi karena mengandalkan perkembangan teknologi digital dengan berbagai kemudahannya.
Namun siapa sangka jika perdagangan online justru berdampak buruk terhadap lingkungan. Bisnis e-commerce ini ternyata menjadi salah satu penyumbang sampah plastik tinggi. Begitu pula dengan penggunaan layanan delivery makanan lewat jasa transportasi online.
Diketahui, hampir 96 persen paket selalu dibungkus dengan plastik yang tebal dan ditambah dengan bubble wrap. Selotip, bungkus plastik dan bubble wrap merupakan pembungkus berbahan plastik yang paling sering ditemukan dalam jual beli online.
Demikian dikatakan I Gede Hendrawan,Phd, ahli Oseanografi Universitas Udayana saat diskusi publik yang digelar Jaringan Jurnalis Peduli Sampah (J2PS), Kamis (16/3/2023) di Denpasar.
Dikatakan Hendrawan, dari penelitian yang dilakukan, jumlah sampah yang dihasilkan Bali mencapai 4.200 ton per hari. Dari sampah sebanyak itu, 48 persen sudah dikelola dan sisanya sebanyak 52 persen masuk TPA dan tidak terkelola.
Dalam diskusi kali ini Hendrawan juga membahas serbuan sampah yang selalu terjadi di kawasan pesisir selatan Badung, khususnya Pantai Kuta. Pada saat musim angin barat, arus tak henti-hentinya mendaratkan sampah dan serpihan, mayoritas anorganik ke Pantai Kuta. Nampak jelas saat musim angin barat itu, sampah tak habis-habis dibawa gulungan ombak.
Hendrawan menjelaskan pengamatan sumber sampah yang memasuki perairan laut berasal dari aliran sungai yang berhadapan langsung dengan Selat Bali. Dengan demikian sungai-sungai yang berhadapan langsung dengan Selat Bali memiliki potensi untuk turut menyumbangkan sampah menuju perairan laut, terutama pada saat musim hujan, baik berupa sampah organik maupun sampah plastik.
“Secara umum sampah yang di Pantai Kuta tidak berasal dari Pulau Bali sendiri, namun juga disumbangkan oleh pesisir pantai di Banyuwangi dan Samudra Hindia,” katanya memperkirakan.
Diskusi bertema Bali Darurat Sampah ini juga menghadirkan Putu Ivan Yunatana, Ketua Asosiasi Pengusaha Sampah Indonesia (APSI) Bali Nusa Tenggara yang juga Founder Bali Waste Cycle. Dikatakan Putu Ivan, sampah yang tidak tertangani dengan baik tentu akan mencederai Bali sebagai kawasan pariwisata.
Ia mengharapkan keseriusan dan komitmen seluruh pihak untuk dapat merealisasikan manajemen pengelolaan sampah yang terstruktur agar dapat mendaur ulang plastik. Ia menegaskan bahwa tanggung jawab bekas kemasan plastik bukan hanya pada produsen semata, melainkan semua pihak termasuk juga pemerintah, kawasan, dan konsumen. (dha)








