
NUSA PENIDA – Sebagian warga Nusa Lembongan dan Nusa Ceningan yang sempat terjun ke sektor pariwisata kini kembali melakoni budidaya rumput laut.
Made Supidra (59) asal Jungut Batu, Desa Lembongan, Nusa Penida, menuturkan, sekitar 40 persen warga di wilayahnya kembali menjadi petani rumput laut karena wisatawan yang datang belum banyak seperti sebelum pandemi Covid-19.
“Satu kepala keluarga bisa mengolah maksimal satu hektar lahan rumput laut, tapi mereka hanya ikut membantu menjadi buruh petik maupun mengolahnya menjadi kering. Dari mulau bertani sampai panen tidak bisa dilakukan satu orang karena prosesnya panjang,” kata Made Suprida.
Ia menyebut harga rumput laut saat ini berkisar Rp22 ribu sampai Rp23 ribu per kilogram. “Biasanya dicari oleh pengepul untuk dikirim ke Surabaya. Kalau disini belum ada tempat pengolahannya,” ungkapnya.
Sementara, petani Made Swata asal Banjar Agrek Ceningan Kawan mengatakan, rumput laut yang dibudidayakan jenis grandong katoni yang hidup mulai Juni sampai Desember dan mati Januari sampai April.
“Mungkin karena cuaca tidak cocok rumput laut tidak hidup pada Januari sampai April, setelah itu baru bisa hidup lagi,” ujarnya sambil memperihatkan rumput laut yang sudah mulai menguning.
Panen rumput laut bisa dilakukan setiap hari karena lahan cukup luas. Proses dari panen hingga mengering dan bisa dijual selama tiga hari. (jay)








