
DENPASAR – Dampak pencemaran terhadap air laut di Bali selatan membuat penghasilan para nelayan di Badung selatan mengalami penurunan. Terutama tangkapan ikan tongkol menurun drastis.
Bahkan ikan tongkol telah kabur dari habitatnya gegara terjadinya pencemaran air laut akibat limbah pasir yang dibuang di bibir pantai oleh Pelindo III, Denpasar
Hal itu diungkapkan Ketua Fraksi Partai Golkar DPRD Provinsi Bali, I Wayan Rawan Atmaja, Kamis (3/11/2022) sebagai hasil kegiatan penyerapan aspirasi (Reses) yang dilaksanak bersama nelayan di Badung selatan.
Rawan Atmaja mengatakan, pencemaran terhadap air laut, merupakan dampak dari pembuangan hasil kerukan pasir dab lumpur oleh Pelindo membuat ikan-ikan semua kabur.
“Pembuangan hasil kerukan tidak dibuang dilaut lepas melainkan dekat bibir pantai sehingga terjadi pencemaran air laut membuat air laut berubah warna seperti air susu dan membuat ikan tongkol kabur,”ujarnya.
Rawan menyebutkan, belum diketahui secara pasti apakah pengerukan oleh pihak Pelindo itu dilakukan untuk normalisasi alur kapal dan hasil kerukan dimanfaatkan untuk pengurugan. Karena berdampak terhadap pencemaran, diharapkan mendapat perhatian dari Dinas Lingkungan Hidup.
Sebab, pembuangan hasil kerukan pasir ini yang paling dirugikan para nelayan lokal dengan sistem penangkapan masih sangat tradisonal. Seperti nelayan di Tanjung Benoa, Sawangan, Serangan hingga nelayan di Uluwatu.
“Aspirasi nelayan yang kami terima, hasil tangkapannya berkurang sebanyak 90 persen, sebab bulan ini ikan tongkol semestinya panen namun kabur akibat pencemaran air laut,”katanya.
Politisi Golkar Badung Selatan ini menambahkan, selain berharap pada Dinas Lingkungan Hidup untuk mengecek langsung ke lapangan, pihaknya juga akan berkoordinasi dengan Komisi III DPRD Bali. Sebab, kegiatan seperti ini merupakan bidang Komisi III.
“Leading sektornya di sana, sudah kami sampaikan juga dengan ketua Komisi III, Gung Aji Ardhana,” ujarnya.
Selain telah mencemari lingkungan, pembuangan pasir lumpur dari hasil kerukan dilakukan dimalam hari, hingga membuat para pemancing ketakutan disenggol kapal saat membuang limbahnya dekat bibir pantai.
“Kami sudah turun langsung dan kami akan kawal aspirasi masyarakat nelayan hingga permasalahannya tuntas,” janjinya.
Rawan Atmaja menambahkan, aspirasi nelayan sebelumnya disampaikan terkait kelangkaan Bahan Bakar Minyak (BBM) untuk nelayan. Koordinasi apik yang sudah dilakukan instansi terkait, aspirasi masyarakat dengan keluhan nelayan akan sulitnya mendapat BBM saat awal kenaikan BBM, semuanya sudah bisa diselesaikan.
Rawan mengakui, keluhan dan masukan dari masyarakat harus dikawal dengan serius, sebab menurut Rawan Atmaja ekonomi Bali saat ini sudah mulai menggeliat secara keseluruhan.
Pihaknya berharap perlu dukungan dari semua komponen agar ekonomi Bali secara perlahan terus meningkat, terutama di bidang pariwisata.
“Kami lihat ekonomi masyarakat kan sudah terus menggeliat, terutama di pariwisata sudah mulai bangkit,”pungkasnya. (arn/jon)








