
JEMBRANA – Bencana banjir bandang yang terjadi Minggu (16/10/2022) menyisakan ribuan kubik material tanah dan kayu. Pasca banjir, pemandangan tumpukan kayu bercampur tanah hampir terlihat di seantero wilayah terdampak banjir di Jembrana.
Penanganan material kiriman banjir, juga terbatas pada wilayah tertentu. Saking banyaknya wilayah dan bangunan tertutup material batang kayu berukuran besar, bercampur sedimen lumpur, pembersihan pun memerlukan tenaga dan waktu yang cukup lama.
Sejumlah pertanyaan pun mencuat. Dari mana asal usul kayu terbawa banjir sebegitu banyaknya? Kalau bukan dari hulu atas, apalagi sebagian wilayah desa terdampak rata-rata punya hutan.
“Kalau bukan dari hutan, dari mana lagi kayu-kayu bergelimpangan ini berasal, apalagi semua desa terdampak memiliki hutan,” ungkap sumber yang enggan namanya dikorankan, kepada WARTA BALI Kamis (20/10/2022).
“Kalau tanya bagaimana hutan di atas sana, sebenarnya cukup tanyakan ke yang menyanding hutan. Di Jembrana banyak desa berbatasan langsung dekat hutan, di situ bisa memberi jawaban tetek bengek soal hutan,” tegasnya.
Menurutnya, jika musim penghujan, kemudian terjadi banjir di sungai, itu hal biasa. Namun banjir bandang seperti kemarin, sebegitu hebat banyak membawa pohon-pohon dan kayu besar, kemudian ada tersangkut dan menumpuk di mana-mana, tidak hanya di wilayah yang dilalui banjir, di alur sungai juga mengendap bahkan bertumpuk-tumpuk hingga ke pesisir laut.
‘’Yang patut dipertanyakan bagaimanakah dengan hutan di hulu? Apa masih utuh atau sudah gundul?’’ tanya pria asal Kecamatan Mendoyo itu.

Sudah menjadi rahasia umum, lanjutnya, ketika banjir bandang seperti ini, orang yang di atas, penyanding hutan, seakan enggan bicara, bungkam, tak mau tahu soal hutannya.
Sementara orang di bawah, di hilir, sudah pasti menuding keadaan hutan di atas tidak beres. ‘’Ya ada pengawenan, ada praktek perambahan illegal logging, bahkan hutan sengaja digunduli. Sekali lagi kalau mau cari tahu, kondisi hutan, yang termudah cek saja langsung ke hutannya, dipastikan mendapat fakta jawaban sebenarnya,” tukasnya.
Bupati I Nengah Tamba mengatakan, bila benar penyebab banjir bandang di Jembrana lantaran aktivitas penggundulan hutan alias diawen, ia mengancam mencabut hak pengelolaan hutan di sejumlah desa penyanding hutan se-Jembrana.
Bupati asal Desa Kaliakah itu menyebutkan, kejadian bencana banjir bandang ini paling terparah, bahkan menjadikan Jembrana status darurat bencana. Faktor penyebab bencana, faktor utamanya memang karena alam, namun faktor lainnya juga karena adanya masyarakat merambah hutan.
Terbukti dari material banjir yang terbawa banyak kayu yang hanyut sudah membuktikan adanya penebangan pohon untuk alih fungsi hutan.
“Saya sudah peringatkan ketua kelompok tani hutan, nanti akan saya kumpulkan masyarakat yang memanfaatkan hutan. Apabila masih terjadi banjir saya akan cabut hak untuk pengelolaan hutan. Saya akan berkoordinasi dengan gubernur karena izin hak pengelolaan hutan di pemprov,” tandasnya. (ara,dha)








