
KUTSEL – Meski sudah sekitar satu bulan lagi, jadwal kedatangan para peserta KTT G20 ternyata masih belum final. Pun demikian seperti disampaikan pihak Lembaga Penyelenggaraan Pelayanan Navigasi Penerbangan, alias AirNav Indonesia.
Karena itulah, Direktur Utama AirNav Indonesia, Polana B Pramesti menyebut belum bisa mengungkap data pasti soal pergerakan pesawat kaitan dengan kedatangan para peserta. Namun demikian, menurut dia, oleh adanya tambahan sekitar 70 hingga 100 flight, maka penambahan pergerakan diperkirakan mencapai 140 hingga 200 movement.
Disampaikannya pula, kaitan KTT G20, nantinya rencana akan ada 29 kepala negara yang datang dengan pesawat negara. Namun di samping itu, ada pula peserta lainnya yang menggunakan pesawat komersial.
“Belum ada rincian pasti. Karena ini bukan AirNav yang menentukan. Tapi panitia yang dikomandoi oleh Kemenkomarves. Yang mana kaitan dengan kedatangan pesawat, koordinatornya adalah Kemlu,” bebernya, Selasa (18/10/2022).
Hal tersebut, sambung dia, masih terus diupdate dan dibahas. Bahkan hampir setiap minggu dilakukan rapat.
“Yang jelas konsepnya tidak mengganggu penerbangan komersial. Komersial tetap dilayani. Walaupun berkurang, tapi tidak ada penghentian,” tambahnya.
Namun demikian, pihaknya tentu berharap agar data kedatangan pesawat tersebut bisa segera dikantongi. Dengan demikian, maka pengaturan flow-nya bisa dipikirkan dari jauh-jauh hari.
“Jumlahnya itu masih bergerak terus. Yang jelas, nanti pesawat negara tidak bisa semua stay di Bali. Jadi nanti ada pesawat yang nge-drop di sini, tapi parkirnya di bandara lain. Seperti di Surabaya, Lombok, Makassar, Jogja, Semarang, dan bandara terdekat lainnya,” ucapnya sembari memastikan bahwa pergerakan tersebut akan senantiasa dimonitor oleh pihaknya bersama-sama dengan pihak TNI.
Soal kedatangan pesawat VVIP, dirinya menegaskan bahwa itu tentu ada protokolnya. Seperti ruang udara yang harus steril 30 menit sebelum dan 15 menit sesudah mendarat.
“Kalau soal personil, nanti akan ada perbantuan dari kantor pusat. Jumlahnya itu tidak terlalu banyak, karena sesungguhnya Bali sudah siap. Apalagi Bali memiliki pengalaman yang cukup banyak untuk event-event seperti ini. Misalnya APEC dan IMF, yang jauh lebih banyak traffic-nya,” pungkasnya. (adi/jon)








