
BULELENG – Visitasi, penilaian Desa Wisata Sudaji Kecamatan Sawan Kabupaten Buleleng sebagai salah 1 dari 50 nominator lomba Anugrah Desa Wisata Nasional (ADWI) tahun 2022, tak hanya menorehkan kesan bagi Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Republik Indonesia Sandiaga Salahuddin Uno. Seni budaya yang terjaga lestari, alam dengan perbukitan natural ditata sebagai destinasi pariwisata berkonsep Serenity, Sustainability dan Sprituality juga membuat Cendikiawan Pariwisata Indonesia, Azril Azahari terkesima.
“Kekuatan Pariwisata Bali adalah adat istiadat, kultur budaya berdasarkan falsafah Tri Hita Karana, ini yang bisa dikembangkan sebagai Community Based Tourism,” tandas Azril Azahari, disela-sela visity Menparekraf Sandiaga Uno serangkaian ADWI di Desa Sudaji Kecamatan Sawan, Jumat (19/8/2022).
Penesehat Menparekraf sekaligus ketua dewan juri ADWI Tahun 2022 ini mengungkapkan Community Base Tourism dilakukan karena adanya pergeseran paradigma pariwisata dunia.
“Sebelum tahun 1980 memang massal tourism, 1980 – 2000 berubah ke alternatif tourism mencari bentuk, tahun 2000-2020 itu quality tourism dan dengan adanya pandemi Covid-19, itu bergeser cepat,” ujarnya.
Tidak lagi quality tourism, tapi sudah mengarah custumize tourism, lebih pada personalize, localize dan special tourisme.
“Itu yang harus dikembangkan, ini banyak yang lupa orang, mengembangkan custumise, sesuai keinginan para pengunjung, turis, daya tariknya itu yang dikembangkan, namanya visitor attraction, daya tarik bagi para pengunjung,” terangnya.
Keunikan, unikleze dan autentikasi, asli atau tidak, sehingga yang mendapatkan dampak dari pengembangan kepariwisataan ini adalah daerah atau desa.
“Makanya, kami akan kembangkan Comunity Base Torisme, wisata yang berbasis masyarakat, komunitas. Jadi bukan investor saja, yang punya hotel dan restouran yang dapat dampak pariwisata, tapi juga masyarakat, makanya dikembangkan desa-desa wisata, itu sebenarnya dasar pengembangan desa wisata,” jelasnya.
Terkait Desa Wisata Sudaji dan Bali umumnya, Guru Besar Pariwisata Universitas Trisakti ini menyatakan Bali hidupnya memang dari pariwisata.
“Karena memang kehidupan masyarakatnya dari sektor pariwisata, pertanian ada sebagai pendukung sektor pariwisata,” tandasnya.
Community Base Torisme sangat potensial untuk dikembangkan dengan mensinergikan pariwisata berbasis masyarakat dengan sektor pendukungnya misalnya pertanian bisa dikembangkan Agro Torisme.
“Kemudian disini ada budayanya yang sangat kuat, nah budayanya itu barangkali tidak ada ditempat lain, khas budaya Bali, yakni filosofisnya Tri Hita Karana, hubungan dengan tuhan, orangnya dan lingkungan yang tetap terjaga,” jelasnya.
Adanya subak sebagai salah satu implementasi Tri Hita Karana, menjadi daya tarik yang sangat menarik.
“Saya mempelajari subak sudah lama. Saya ditugaskan meteri mempelajari subak untuk dikembangkan ke provinsi lain, gagal saya. Karena, itu tadi adanya Tri Hita Karana, rohnya tidak ada sehingga tidak berhasil, itu kelebuhan Tri Hita Karana,” pungkasnya.(kar/jon)








