
KUTSEL – Industri pariwisata Bali mulai bergairah seiring melunaknya aturan menyikapi pandemi Covid-19. Namun sejalan dengan itu pula, ternyata perselisihan hubungan industrial juga tampak marak bermunculan. Hal tersebut terlihat dari banyaknya permohonan mediasi yang diterima oleh Dinas Perindustrian dan Tenaga Kerja (Disperinaker) Kabupaten Badung belakangan ini.
Kepala Disperinaker Badung I Putu Eka Merthawan menuturkan, terhitung sejak awal tahun, ada puluhan permohonan mediasi yang diterima pihaknya. Seluruhnya, adalah industri yang bergerak di sektor pariwisata.
“Hingga bulan Juli lalu, ada sekitar 20 permohonan mediasi yang masuk. Jika dibandingkan dengan periode yang sama di tahun sebelumnya, yang sekarang ini memang terbilang meningkat. Mungkin karena tahun sebelum industri pariwisata masih dalam keadaan pasif. Sementara sekarang, masih antara pasif dan aktif,” ujarnya pada Rabu (3/8/2022), sembari menyebut permohonan mediasi kepada pihaknya adalah upaya yang patut dihargai. Bahkan bagi dirinya, itu adalah jalan penyelesaian yang elegan.
Kebanyakan perselisihan yang terjadi, katanya adalah menyangkut ketidakpuasan para tenaga kerja. Yang menurut dia, juga merupakan dampak susulan dari lesunya sektor pariwisata akibat pandemi Covid-19.
“Misalnya yang sebelumnya sempat dirumahkan namun hingga saat ini belum juga dipanggil kembali, nafkah yang tidak jelas, hingga Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) yang dinilai sepihak,” bebernya.
Kondisi semacam itu dipastikan menjadi salah satu atensi pihaknya selaku instansi membidangi. Mediasi dilakukan secara optimal, dengan tujuan mencari solusi terbaik.
“Yang jelas, sampai hari ini perselisihan hubungan industrial di wilayah Badung belum ada yang sampai berbuntut aksi demonstrasi anarkis. Dan semoga itu tidak pernah terjadi,” ungkapnya.
Optimalisasi tersebut dinilai sangat penting, apalagi tidak lama lagi Bali akan menjadi tuan rumah hajatan internasional KTT G20. Karenanya dia berharap agar seluruh perselisihan industrial dapat diredam melalui win-win solution.
“Jangan sampai meledak dan menjadi bumerang. Jadi kami benar-benar mengoptimalkan layanan sebagai mediator. Dan kami harap, baik itu pihak perusahaan ataupun para tenaga kerja bisa saling memahami kondisi yang terjadi,” ucapnya.
Kodusifitas Badung dan Bali pada umumnya, sambung dia, menjadi hal yang dipertaruhkan pada gelaran KTT G20 nanti. Karenanya dia berharap agar hal tersebut bisa dijaga oleh berbagai pihak, termasuk industri pariwisata. (adi/jon)








