
DENPASAR – Ketua Komisi II DPRD Bali IGK. Kresna Budi secara tegas menyampaikan, ditengah menggeliatnya aktivitas ekonomi masyarakat Bali terutama pada sektor pariwisata, Kresna Budi meminta agar import daging sapi guna memenuhi kebutuhan pariwisata dihentikan. Saat pariwisata Bali berjalan normal sebelum Covid, kebutuhan daging sapi di hotel lebih banyak didatangkan dari Australia sementara daging sapi lokal hanya dipakai pemenuhan kebutuhan wisatawan lokal dan kantin karyawan hotel.
Menurut Ketua Komisi II IGK. Kresna Budi, angka Kasus Covid-19 di Bali terus melandai meski berbagai aktivitas kegiatan ekonomi masyarakat Bali maupun adat sudah berjalan normal. Bahkan wisatawan asing di Bali sudah terlihat jumlahnya ada peningkatan di sejumlah kawasan wisata seperti Kuta, Nusa Dua, Canggu, Denpasar, Ubud dan sejumlah daerah tujuan wisata lainnya.
Kresna Budi mengatakan, biasanya kebutuhan daging sapi untuk wisatawan meningkat dan pemenuhan kebutuhan tersebut selalu ada import daging sapi dari Australia.
“Sesuai kebijakan dari presiden Jokowi yang melarang adanya import, saya minta pemenuhan daging sapi untuk hotel dan restauran di Bali lebih banyak memanfaatkan produk lokal yang ada. Manfaatkanlah daging sapi lokal yang ada di Bali dan dipastikan dagingnya lebih lembut dan kesehatan ternak sapi Bali dijamin,”ujarnya.
Sementara kepada Dinas Peternakan dan Balai Karantina, Kresna Budi meminta agar melakukan pengawasan esktra ketat dalam mènerbitkan Surat Keterangan Hewan (SKH). Dalam pemeriksaan kesehatan hewan yang akan dipotong benar-benar dilakukan pemeriksaan secara ketat dan jangan sampai ternak yang dipotong untuk pemenuhan kebutuhan hotel dan restauran termasuk kebutuhan masyarakat Bali, ada penyakit. Semua ternak benar-benar sehat dan tidak ada ternak yang terjangkit penyakit kuku dan mulut (PMK).
Politisi Golkar asal Buleleng ini menambahkan, termasuk kebutuhan daging pada saat Hari Raya Galungan dan Kuningan. Menurutnya masyarakat Bali sudah mulai memotong ternak babi untuk kebutuhan hari raya sejak Senin, 6 Juni 2022. Pihaknya berharap Dinas Peternakan di Provinsi maupun kabupaten kota di Bali melakukan pemantauan langsung ke lapangan dan bahkan menjadi agenda rutin dilakukan jauh sebelum hari penampahan Galungan. Bukan saja pada tempat-tempat pemotongan hewan (RPH) tetapi kelompok masyarakat yang biasanya secara rutin melakukan pemotongan ternak babi juga ikut dipantau.
“Sebelum dipotong hendaknya ada pemeriksaan hewan, jangan sampai babi yang dipotong terjangkit penyakit PMK. Saya berharap daging babi yang dipotong dan dikonsumsi masyarakat pada perayaan Galungan dan Kuningan tahun ini benar-benar daging yang sehat,”pintanya.
Sementara ditanya mengenai meroketnya harga daging babi menjelang Galungan dan Kuningan menurut Kresna Budi tidak ada masalah. Menurutnya, naiknya harga daging babi menjelang galungan sudah mulai biasa semenjak Covid-19. Dampak dari kenaikan harga daging babi sudah jelas pada peternak baik peternak rumahan maupun pengusaha ternak babi.
“Harga babi mahal, tidak masalah, biarkanlah sekali-sekali peternak babi di Bali dapat menikmati keuntungan dan ini berkahnya peternak,”pungkasnya. (arn/jon)








