Perdana di Indonesia, EHang 216 Mengudara di Klungkung

0
294

Flight demonstration perdana EHang 216 yang dilaksanakan di Kecamatan Banjarangkan, Kabupaten Klungkung, Jumat (26/11/2021)

KLUNGKUNG – EHang 216 secara perdana mengudara di langit Indonesia, Jumat (26/11/2021). Dan Bali, tepatnya Kecamatan Banjarangkan, Kabupaten Klungkung, dipilih sebagai lokasi pelaksanaan flight demonstration tersebut.

“Bali terpilih sebagai tempat uji terbang, karena kami menilai Bali memiliki kekuatan yang tinggi dalam menarik wisatawan baik domestik ataupun internasional. Semoga uji terbang ini ke depannya dapat menjadi cikal bakal untuk pesawat tanpa awak dalam ekosistem urban air mobilism,” ucap Presiden Direktur Prestige Image Motocars Rudy Salim dalam acara perkenalan EHang 216.

Dengan menghadirkan EHang 216, Rudy Salim mengaku ingin menjadi pionir inovasi kota pintar dengan implementasi transportasi berbasis digital. Karena bersifat otonom dan digerakkan dengan energi listrik, EHang 216 diklaim sebagai sebuah solusi mobilitas yang efektif, efisien, dan ramah lingkungan.

“Di sisi pariwisata, flight demo ini kami harap dapat menjadi awal perkembangan industri dan rekreasi. Dan semoga nantinya dapat berkontribusi dalam menggairahkan kembali industri pariwisata Indonesia,” sebutnya.

EHang 216 sendiri, kata dia, merupakan sebuah moda transportasi yang fleksibel. Bisa digunakan untuk mendukung industri kesehatan kaitan dengan pemerataan obat ataupun vaksin, serta alat transportasi pemberian tindakan darurat. Di samping itu, EHang 216 juga disebut sebagai solusi akses jalur darat yang sulit dicapai sehingga dapat meningkatkan produktivitas.

“Ini adalah moda transportasi masa depan yang sudah ada sekarang. Yang mungkin masih terlihat aneh, tapi ini justru ternyata lebih murah daripada helikopter atau moda transportasi udara apapun,” tambahnya.

EHang 216 juga disebut sebagai alat transportasi udara yang aman. Bahkan oleh pengoperasiannya yang otonom, telah sedikit mengeleminasi potensi terjadinya human error. “EHang 216 digerakkan tanpa pilot di dalamnya, tapi menggunakan sistem dari ground control yang sudah menerapkan artificial intelligence, yang titik-titik penerbangannya sudah disurvey sebelumnya,” ucapnya mengenai EHang 216 yang katanya masih bisa melayang meski dalam kondisi angin topan kategori 3.

Ke depan, EHang 216 rencananya akan diperjualbelikan atau disewakan. Namun dia belum berani memastikan kapan itu akan terjadi, karena masih menunggu regulasi. “Jika disewakan, angkanya akan sangat murah sekali. Per 6 menit atau 12 menit, angkanya cuma ratusan ribu rupiah,” bebernya soal EHang 216 yang katanya bisa terbang selama 30 menit dengan jarak 30 km, hanya dalam sekali pengisian daya yang rentang waktunya sekitar 1 jam saja.

“Begitu izin keluar, nanti yang akan terbang pertama tentunya Pak Bambang Soesatyo,” tandasnya.

Pada lokasi yang sama, Ketua Ikatan Motor Indonesia (IMI) yang juga Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) Republik Indonesia Bambang Soesatyo mengatakan bahwa EHang 216 adalah moda transportasi udara dua penumpang yang terus menerus dikembangkan dan terbukti aman. Pada saat bersamaan, di Korea Selatan katanya juga melakukan uji coba serupa.

“Ini sebetulnya adalah moda transportasi modern yang akan mengubah gaya hidup kita ke depan. Suatu saat rasanya akan tidak lengkap kalau di garasi rumah tidak ada EHang ini,” ucapnya.

EHang 216, sambung dia, juga akan menunjang pariwisata di Bali. Namun mengutip pesan Gubernur Bali, alat transportasi tersebut ditegaskan untuk tidak sekali-kali melintas di atas Pura. “Pura adalah tempat suci yang harus dijaga, begitu juga adat-istiadatnya,” sebutnya.

IMI sendiri, sambung dia, memiliki visi dan misi melakukan percepatan ekosistem kendaraan listrik. Hal tersebut tentunya dipastikan sejalan dengan semangat pemerintah. “Harapan kita kepada pemerintah, dan karena saya yakin dan percaya pemerintah memiliki visi dan misi yang juga sama dengan kita, maka hal-hal seperti ini pasti akan mendapat dukungan penuh dari pemerintah,” harapnya.

Sementara itu, Kepala Subdit Sertifikasi Pesawat Udara Direktorat Kelaikudaraan dan Pengoperasian Pesawat Udara Kementerian Perhubungan Agustinus Budi Hartono menegaskan, meski EHang 216 telah melakukan flight demonstration, bukan berarti kemudian bisa secara otomatis melakukan penerbangan komersial. Mengingat pada saat ini masih ada beberapa hal teknis yang harus dipenuhi.

“Pengoperasian pesawat tanpa awak ini memang dalam dua tahun ke depan sudah semakin banyak, dan tentunya sudah tidak mungkin bisa kita bendung. Oleh karena itu kami selaku regulator terus menyempurnakan aturan-aturan kami. Dan juga kami terus merevisi dan membuat aturan-aturan baru untuk bisa mengakomodir pengoperasian pesawat udara tanpa awak. Kami juga berusaha untuk tidak tertinggal aturan dengan perkembangan teknologi yang ada saat ini,” ucapnya sembari memastikan dalam pembuatan aturan tersebut, tetap mengacu pula kepada peraturan internasional.

Dikatakannya pula, soal pesawat tanpa awak sebenarnya sudah dimasukkan pula dalam Undang-Undang Cipta Kerja dan PP 32 Tahun 2020. Selain itu, aturan standarnya pun dipastikan sudah dibuat. Dengan demikian, jika di Indonesia ada yang hendak membuat drone atau ada drone dari luar yang akan dioperasikan di Indonesia, maka sudah siap untuk melakukan proses sertifikasi dan validasi.

“Tapi memang bukan hanya dari sisi pesawat saja. Kami juga harus mempertimbangkan hal lain, seperti sisi ruang udara, keamanan, lisensi pilot, termasuk juga organisasi yang nanti akan mengoperasikannya. Itu terus kita sedang lakukan revisi aturan-aturannya. Kita harapkan sebenarnya di akhir tahun ini, atau paling telat di kuartal pertama tahun depan, peraturan tersebut sudah selesai direvisi, disahkan, dan siap disosialisasikan,” pungkasnya. (adi/jon)


LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

16 − 10 =