Komisi IV DPRD Bali Pertanyakan Kesiapan Vaksinasi di Bali

0
43
Komisi IV DPRD Bali menggelar rapat kerja (raker) bersama Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Bali di ruangan Komisi IV DPRD Bali membahas kesiapan pendistribusian vaksin Covid-19 di Bali

DENPASAR – Komisi IV DPRD Bali mempertanyakan, kesiapan program vaksinasi dan pendistribusian vaksin di semua kabupaten di Bali. Sebab, vaksin yang sudah tiba di Bali sudah mencapai 51 ribu vial vaksin Covid. Pada 5 Januari dinihari datang 31 ribu vial vaksin dan Kamis 7 Januari tiba di Bali lagi 20 ribu vial vaksin. Hal itu terungkap dalam rapat kerja antara Komisi IV DPRD Bali dengan Dinas Kesehatan, di ruang Komisi IV Kamis (07/1/2021).

Ketua Komisi IV DPRD Bali I Gusti Putu Budiarta seusai pertemuan mengatakan Komisi IV ingin memastikan sejauh mana kesiapan Dinas Kesehatan bersama semua jajarannya dalam proses vaksinasi. Sebab, sampai saat ini tercatat 51 ribu vial vaksin telah tiba di Bali. Vaksinasi harus segera dilaksanakan apalagi, pandemi Covid-19 sudah berlangsung hampir setahun dan ini telah berdampak ke segala sektor kehidupan masyarakat Bali.

Politisi PDIP asal Pedungan Denpasar meminta keberadaan vaksin di Bali harusmampu menjangkau seluruh masyarakat Bali. Seperti yang diperjuangkan oleh Gubernur Bali dalam setiap pertemuan dengan pemerintah pusat, Bali harus mendapat prioritas termasuk vaksinasi.

“Kebetulan sekarang sudah ada vaksin yang sesegera mungkin harus didistribusikan ke masyarakat sehingga masyarakat bisa terbebas dari Covid,”pintanya.

Kepala Dinas Kesehatan (Kadiskes) Provinsi Bali, dr. Ketut Suarjaya mengatakan, dalam persiapan vaksinasi di Bali, pihaknya telah membentuk Komite Daerah (Komda). Ketika program vaksinasi ini sudah berjalan, Komda ini nantinya yang akan memantau apabila setelah vaksinasi dilaksanakan terdapat kejadian ikutan pasca imunisasi (KIPI). Petugas inilah yang akan bertugas untuk mengobservasi apabila ada kejadian ikutan pasca vaksinasi.

“Komda ini bertugas berdasarkan surat keputusan atau SK gubernur dan diisi dokter-dokter spesialis yang ahli di bidang vaksin,” jelasnya.

Kadiskes Suarjaya menyebutkan, sampai saat ini belum ada informasi terkait kejadian ikutan pasca vaksinasi. Kalaupun ada masih jarang terjadi. Namun, monitoring terhadap kejadian atau gejala ikutan pasca vaksinasi mesti tetap dilakukan hal ini dikarenakan vaksin baru.

Menurut program kerja yang disiapkan Dinas Kesehatan, setelah vaksinasi akan disediakan fasilitas kesehatan sebagai tempat untuk diobservasi.

“Habis vaksin dia akan diobservasi paling tidak 15 menit. Apakah ada reaksi, gejala-gejala, atau gatal gatal. Itu sedang disiapkan,”imbuhnya.

Sesuai aturan yang diberlakukan secara nasional pada program vaksinasi ini, kalau ada gejala ikutan muncul setelah peserta vaksinasi berada di rumah, bisa dilaporkan ke faskes atau puskesmas terdekat. (arn)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here