
Pecalang menjaga ketat pintu masuk menuju Pantai Jasri
KARANGASEM-Moment hari raya menjadi berkah bagi pengelola objek wisata di Kabupaten Karangasem saat masa pandemi. Tapi ada juga pengelola objek wisata menutup lokasi dari kunjungan.
Pantai Jasri di Kelurahan Subagan misalnya, sejak Sabtu (26/9/2020) bertepatan dengan Hari Raya Kuningan hingga Minggu (27/9/2020) saat Umanis Kuningan, pihak desa adat setempat menutup lokasi itu dari kunjungan. Bahkan pintu masuk ke pantai dijaga ketat oleh pecalang. Padahal biasanya setiap hari raya Pantai Jasri selalu dipadati pengunjung.
“Demi mencegah kluster baru Covid-19 jadi kami tutup sementara. Karena yang kami takutkan ada warga dari luar yang masuk itu kami khawatirkan,” ujar Bendesa Adat Jasri I Nyoman Mawi Yudistira, Minggu (27/9/2020).
Meski diakui, saat hari raya banyak warga sekitar yang mengais rejeki dengan menggelar dagangan di Pantai Jasri, namun menurutnya, kesehatan masyarakat lebih penting.
Sementara objek wisata Penglukatan Sapta Gangga di Desa Adat Timbrah, Desa Pertima justru dipadati pengunjung. Objek wisata ini dipercaya warga untuk menghilangkan mimpi buruk dan penyakit non medis dengan cara melukat (mandi) pada tujuh pancoran.
Moment itu dimanfaatkan warga sekitar untuk mengais rejeki sebagai tukang ojek. Pasalnya kendaraan roda empat tidak bisa masuk ke lokasi objek wisata.
Pengunjung harus berjalan kaki sejauh 700 meter, maka warga sekitar pun berinisiatif menyediakan jasa ojek.
“Kalau masuk dari utara sekitar 500 meter pengunjung harus berjalan kaki, kalau dari selatan pengunjung harus jalan 700 meter,” ujar salah seorang prajuru Desa Adat Timbrah, Nengah Sudarsa. Namun demikian Sudarsa menyatakan jumlah kunjungan saat ini dibandingkan sebelum masa pandemi mengalami penurunan.
:Kami tetap jalankan protokol kesehatan dengan baik, hand sanitizer, cek suhu serta wastafel cuci tangan kami sediakan. Verifikasi new normal juga sudah ada,” demikian Sudarsa. (ami)








