
Bendesa Adat Peminge, Made Warsa, tidak memungkiri hal tersebut. Kata dia, kotoran sapi ditemukan berserakan di sejumlah titik, termasuk di badan jalan. Sapi-sapi juga kerap menyeberang, sehingga rawan menimbulkan kecelakaan lalulintas.
“Jumlahnya cukup banyak. Kondisi ini membuat warga kami khawatir. Selain berak di jalan, sapi ini juga terkadang nyebrang jalan secara mendadak,” ungkapnya. Fenomena tersebut, menurut dia, bukanlah sebuah persoalan baru. Bahkan itu sudah sempat dilaporkan ke lurah sebelumnya. Namun belum juga dapat diselesaikan.
Pihaknya sendiri pernah berupaya melakukan penelusuran dan pendekatan ke warga yang diduga pemilik sapi-sapi bersangkutan. Namun sayang, langkah itupun belum membuahkan hasil optimal. “Ada yang mengaku punya sapi, ada juga yang tidak. Ini yang sulit bagi kami. Yang mengaku, sempat berjanji akan mengkandangkan, tapi nyatanya masih saja ditemukan,” ungkapnya.
Karena itulah dia berharap, hal itu dapat menjadi atensi dari instansi terkait. Harapan itupun dipastikan telah tersampaikan kepada lurah dan camat. Namun jika persoalan itu terus saja berlarut, maka dia menegaskan bahwa pihaknya tidak segan mengambil langkah. Itu akan dilakukan, jika ke depan masih saja tidak ada yang mengaku sebagai pemilik.
Terpisah, Lurah Benoa, I Wayan Karang Subawa membenarkan adanya keluhan masyarakat berkenaan dengan sapi-sapi tersebut. Dia memastikan laporan itu akan ditindaklanjuti, diawali melalui langkah penelusuran terhadap pemilik. “Kita akan telusuri dahulu. Setelah kita tahu persis, kita akan coba mediasi,” singkatnya. (adi)








