
DENPASAR – Hypnosis untuk sport yang biasa disebut Hypnosport adalah salah satu cara yang digunakan untuk lebih memaksimalkan performa dari para atlet untuk menuju pertandingan atau saat berada di lapangan pertandingan. Hypnosport juga merupakan ilmu terapan dari Hypnosis itu sendiri dan sudah digunakan oleh atlet-atlet dunia seperti Tiger Wood, Michael Jordan, Mc. Gregor atau lainnya. Bahkan klub-klub besar seperti NBA, MMA dan UFC juga melakukan pendampingan Hypnosis kepada atlet-atletnya. Semua itu disampaikan Ketua DPW PKHI Bali Lan Ananda.
Menurut Master Hypnosis yang juga pernah menjabat sebagai Ketua Umum salah satu cabang olahraga (cabor) beladiri ini, di Bali Hypnosport sudah bukan merupakan barang baru lagi karena KONI Bali saat PON XIX/2016 di Jawa Barat (Jabar) silam, juga sudah menerapkan pendampingan Hypnosport. “Bahkan belakangan ini sudah ada beberapa KONI kabupaten yang mengirimkan pelatih-pelatih cabornya untuk mengikuti pelatihan Hypnosport dalam program latihan ke lembaga pelatihan yang dimilikinya. Hal ini menandakan kesadaran akan pentingnya Hypnosport dikalangan stake holder olahraga di Bali sangat tinggi,” ujar Lan Ananda, Minggu (20/9/2020).
Meski sadar pentingnya pendampingan seorang Hypnotherapist bagi atlet, Lan Ananda mengingatkan kepada para stake holder olahraga untuk mengupayakan hypnotherapis spesialis untuk setiap cabor, karena tidak ada seorang Hypnotherapist yang memahami semua bidang cabor. Pasalnya, persoalan psikosomatis atlet masing-masing cabor berbeda. “Akan menjadi sempurna, bila seorang pelatih juga dapat menguasai skil Hypnosport,” tambah pria yang akrab disapa Gung Lan itu.
Diakuinya, dalam pengamatannya saat ini seorang Hypnotherapist mendampingi berbagai jenis cabor yang mana sudah pasti tidak memahami teknis dari cabor tersebut. Seorang Hypnosport therapist wajib memahami teknik cabor yang akan ditanganinya. Menyoal spesifikasi kenapa seorang atlet sangat membutuhkan seorang Hypnotherapist untuk menjadi juara, Lan dengan enteng menegaskan bahwa menurut hasil riset bahwa kemenangan 90 persen bisa diraih ketika atlet dapat mengatasi kegelisahan, rasa takut dan phobia yang merupakan persoalan psikosomatis. “Sedangkan sisi teknis hanya 10 persen tak lain sebagai penentunya dan untuk mengatasi persoalan psikosomatis tersebut tak lain dengan cara Hypnosis,” demikian Ketua Asosiasi Profesi Hipnotis Bali tersebut. (ari)








