
Dewasa ini masayarakat sudah sangat dimudahkan dengan berbagai aplikasi untuk memudahkan proses melengkapi kebutuhan. Mulai dari jasa, produk, hingga layanan. Hal ini juga di picu pasca keadaan dunia yaitu pandemi yang mengharuskan masyarakat melengkapi kebutuhanya dengan menggunakan aplikasi digital.
Salah satunya dalam berbelanja mengunakan aplikasi TikTok yaitu media social video hiburan berdurasi dan menggunakan latar belakang lagu pada setiap kontenya. Tidak hanya sebagai media hiburan TikTok juga menyediakan layanan untuk berbelanja melalui keranjang kuning atau kerap disebut TikTok Shop.
Mengenai hal ini sudah kerap dibahas di laman berita mengenai Permendag 31 Tahun 2023 yang dimana dalam kebijakan ini pemerintah ingin mendisiplinkan pengguna social media dan pengguna e-commerce untuk bisa memisahkan fungsi dari masing-masing platform tersebut.
Maraknya penjualan dengan cara transaksi online justru dikeluhkan para pedagang di pasar Tanah Abang, Tingginya biaya operasional seperti sewa Gedung dan lainnya tak sebanding dengan jumlah traksaksi yang diperoleh.
Kondisi ini menajdi gambling bahwa banyak pihak yang mungkin lama kelamaan tergerus era digital yang semakin berkembang pesat mengalami transformasi signifikan memasuki sektor kehidupan telah.
Tantangan Digitalisasi di Indonesia
Indonesia sebagai negara maritim untuk mempermudah perdagangan, memiliki potensi besar dalam pemanfaatan teknologi digital untuk pertumbuhan ekonomi. Namun, ada sejumlah tantangan yang harus dihadapi dalam proses digitalisasi. Salah satu tantangan utama adalah ketidaksetaraan akses dan pemahaman terhadap teknologi digital di seluruh wilayah Indonesia.
Beberapa daerah masih mengalami kesulitan dalam mengakses internet, sementara yang lain mungkin tidak memiliki pemahaman yang cukup tentang manfaatnya. Selain itu, UMKM Indonesia sering kali menghadapi hambatan finansial dan kurangnya akses ke modal yang diperlukan untuk berinvestasi dalam teknologi digital.
Hal ini menjadi lebih jelas dengan munculnya TikTok Shop, sebuah fenomena di mana individu atau usaha kecil menggunakan platform media sosial TikTok untuk berjualan barang atau jasa. Meskipun ini dapat menjadi peluang besar, hal ini juga menimbulkan kontroversi, terutama karena potensinya untuk menghancurkan bisnis UMKM yang konvensional.
Kasus TikTok Shop: Keuntungan dan Ancaman
TikTok Shop telah menjadi sensasi di Indonesia, dan fenomena ini memunculkan dua perspektif yang berbeda. Satu sisi, TikTok Shop membuka pintu bagi individu dan UMKM untuk menciptakan bisnis tanpa biaya overhead yang tinggi. Ini dapat meningkatkan kesempatan ekonomi bagi banyak orang, terutama mereka yang memiliki keterampilan dalam pemasaran online dan konten kreatif.
Namun, di sisi lain, TikTok Shop juga telah menimbulkan kekhawatiran serius. Bisnis UMKM yang telah ada sejak lama, seperti toko tradisional atau pedagang lokal, merasa terancam oleh pesaing yang muncul dengan cepat di platform ini. Mereka sering kali kesulitan bersaing dalam hal visibilitas dan daya tarik konsumen, karena TikTok Shop menarik perhatian lebih banyak orang dengan konten yang lebih kreatif dan seringkali mematikan harga.
Kondisi ini dapat disimpulkan bahwa pemerintah seharusnya mendisiplinkan cara kerja platform tersebut. Seperti mengatur flow penjualan, hal ini perlu didukung oleh pengguna, diakui banyak generasi boomer merasa dimudahkan dengan platform ini. Hal ini tentu perlu didukung oleh peningkatan literasi digital, kemudian konten kreatif dan digital marketing, penggunanna platform digital, dan keamanan digital. Pemerintah seharusnya tanggap bertindak memberikan pelatihan dari poin poin tersebut. Serta meberikan menunjang akses permodalan dan infrastruktur digital sehingga Indonesia bisa lebih optimal dalam menunjang ekonomi kreatif. (*)
Oleh Made Widyarini Kusuma Wicitra, S.IP
Magister Ilmu Politik Digital Universitas Diponegoro








