
DENPASAR – Sejak bergabung di dunia desain seni perhiasan khas Bali, artis Happy Salma berkeyakinan banyak karya-karya tradisi atau motif yang diwarisi masih terjaga dan relevan di zaman modern.
“Bicara Motif -motif perhiasan tradisi Bali, banyak terlahir dari sebuah proses panjang yang sifatnya komunal, itu tidak bisa diklaim oleh siapapun, dan sampai detik ini masih relevan kita perkenalkan kepada pecinta perhiasan di seluruh dunia,” kata Happy Salma bersama Sri Luce Rusna selaku Founder TULOLA salah satu brand seni perhiasan khas Bali, Rabu (27/9/2023).
Happy Salma yang juga bagian dari keluarga Puri Ubud ini mengaku sejak 2011 menggeluti dunia desain perhiasan khas Bali. “ Sudah ratusan motif dan ribuan desain, yang kita perkenalkan kepada pelanggan ,” papar suami dari Tjokorda Bagus Dwi Santana Kerthyasa itu.
Dikatakan, seni membuat perhiasan itu sesuatu yang bisa menghidupkan, awalnya kita pekerjaan enam tukang saat ini kita libatkan 80 tukang.
“Karya-karya desain perhiasan Ini banyak terinspirasi dari para seniman, pelukis, sastrawan, karya sastra, alam, tenbang yang kita interprestasikan ke dalam seni perhiasan dengan beragam wujud yang khas dan motifnya ke nusantaraan yang adi luhung,” jelas Happy.
Seni perhiasan ini seni desain kontemporer , berlandaskan seni tradisi, tekniknya sangat detail tradisional. ”Jadi cita-cita kita itu punya kekuatan tradisi tetapi relevan dengan zaman sekarang. Misalnya leluhur mengajarkan membuat Subang yang digunakan untuk upacara adat. Nah sekarang menggunakan Subang sudah bisa dilihat digunakan jalan-jalan di New York, London dan sebagainya,” ungkapnya.
Tantangannya adalah mencari tukang yang harus mampu melahirkan karya-karya dengan kekuatan tradisi namun mampu bersaing dengan level branding -branding luar negeri yang terkenal.
“Tantangannya bagaimana kita bisa selevel dengan desainer dari luar negeri. Jadi kita harus bisa memilih teman- teman untuk membuktikan karya kita bisa selevel brand dari Perancis maupun brand luar negeri lain. Selain mencari tukang memilih pekerjaan meneruskan keahlian leluhur, keinginan kita adalah market harus luas,selain bisnis menjanjikan sekaligus kita mencintai karya tanah air,” tandasnya.
Sementara Sri Luce menambahkan, Bali menggairahkan karena saling menghidupkan, memang ada persaingan tapi asyik juga. “ Bali adalah rumah kami, berasal dari sinilah semesta kreativitas terjamin,” kata Sri Luce Rusna sembari memperlihatkan koleksi-koleksinya di Sanur.
Dalam kesempatan tersebut selain memajang koleksi-koleksi Tulola terbaiknya, juga diperkenalkan maestro keris Made Pada yang mengabadikan karya-karyanya dengan teknik ukir tradisi seni perhiasan detail dan komplek. (sur,dha)








