
GIANYAR – Ketua Komite SMP Negeri 1 Gianyar, Dewa Made Swardana angkat bicara menyikapi polemik pengadaan seragam siswa kelas VII.
Dewa Made Swardana menyebut ada miskoordinasi antara pihak sekolah dengan konveksi dan komite. Menurutnya, pengadaan seragam siswa telah disepakati dalam rapat yang dilangsungkan pada Juli 2023 melibatkan wali siswa kelas VII dengan pihak sekolah.
“Dari hasil rapat bersama orang tua siswa , kami tegaskan akan memfasilitasi dan akan membantu atas permohonan dari orang tua. Namun, terkait harga belum disampaikan karena saat itu tidak tahu harga. Hanya dipaparkan kebutuhan seragam siswa. Karena keinginan semuanya biar sergam. Agar sekolah dan komite yang mefasilitasi dengan memberikan data, pengukuran agar pengadan biar cepat,” ujar Dewa Made Swardana,Rabu (23/8/2023).
Dia mengakui dalam prosesnya antara pihak sekolah dan konveksi dan komite kurang kordinasi. Kebijakan sekolah tidak semua seragam harus dibeli.
Namun, dari konveksi yang mengharuskan semua seragam harus dibeli.
“Proses penunjukan pihak ketiga tidak ada komunikasi dengan komite. Kami mencari tahu dari guru-guru memang tidak ada lelang. Proses itu tidak tahu, yang jelas komunikasi dengan sekolah,” ungkapnya.
Pihaknya akan berkomunikasi dengan pihak konveksi. Bahkan Suardana sendiri mengaku tidak mengetahui alamat pihak konveksinya. Sejumlah masukan telah ia terima. “Ada yang bayar tapi tidak dapat pakaian, ini akan tiang komunikasikan. Tiang tau dari awal terkait permintaan seragam tapi prosesnya tidak tau dan saya tidak ingin tau karena masalah keuangan,” tandasnya.
Sementara Kepala SMP Negeri 1 Gianyar, Ni Made Irma Wulandari menegaskan tidak terlibat dalam pengadaan seragam tersebut, mulai dari tender, penentuan harga hingga jadwal pengambilan.
“Kami dari pihak sekolah memang tak ada mengurusi seragam sekolah dan lain-lainnya. Sekolah hanya memberikan informasi hari pemakaian seragamnya, memakai baju apa. Kami juga hanya menyediakan tempat rapat pada peguyuban orangtua bersama komite. Jadi merekalah yang rembug,” ujar Irma saat dikonfirmasi.
Karena tak pernah terlibat, Irma pun mengaku heran jika ada pihak-pihak yang memojokannya di media sosial (medsos), seolah-olah ia terlibat dalam pengadaan seragam tersebut. “Jadi, kalau saya ditanyakan konveksi dan apa pun soal pengadaan ini, saya tidak tahu. Ketika saya melihat di medsos, kok jauh-jauh pembahasannya. Itulah yang membuat saya dan guru-guru kami tidak nyaman,” ujarnya.
Ditanya terkait proses tender, Irma mengatakan, ia juga tak mengetahui bagaimana proses tender tersebut berlangsung. “Kita kurang tahu. Coba ditanya ke ketua komite. Kita hanya menyediakan tempat rapat saja. Coba tanyakan ke ketua komite ya,” pintanya.
Irma pun kembali menegaskam bahwa pihak sekolah tak terlibat dalam pengadaan seragam tersebut.
“Kami hanya menyediakan tempat rapat antara penguyuban orangtua siswa dan komite. Karena kami juga sudah diwanti-wakti Disdik agar tidak terlibat dalam pengadaan seragam sekolah, dan itu sudah kami lakukan,” tandasnya. (jay)








