
DENPASAR – Mengacu dari aturan dan sistim pertandingan pada PON XIV/2021 di Papua lalu dan di PON sebelumnya untuk cabang olahraga (cabor) biliar, Pengrov POBSI Bali berencana melakukan pemisahan dua nomor atau disiplin untuk pool.
Dua disiplin di pool itu nantinya terbagi menjadi disiplin A yang terdiri dari bola 8 dan bola 9 sedangkan disiplin B untuk bola 10 dan bola 15.
Seperti diutarakan Sekretaris Umum Pengprov POBSI Bali Welly Soedarno saat mendampingi Ketua Umum dr. Laksmi Anggari Putri Duarsa, dengan pemisahan pool menjadi dua disiplin itu artinya akan menjadikan 1 pebiliar maksimal hanya bisa turun empat nomor baik single maupun ganda.
“Nanti ada sosialisasi dan rencananya kami terapkan pada Porprov Bali XVI/2025 mendatang karena PON merupakan acuan dari Porprov Bali. Sedangkan untuk snooker rencananya, atlet biliar spesialis snooker juga akan mendapatkan pemisahan yakni pemain yang turun di nomor snooker tidak bisa turun di English snooker,”jelas Welly Soedarno diamini dr Laksmi Duarsa di Denpasar, Senin (20/3/2023).
“Tapi khusus snooker masih kami lihat dulu situasi dan kondisinya untuk perubahannya,” lanjutnya.
Selama ini disebutkan Welly yang juga mantan Wakil Ketua Umum POBSI Bali itu, di Bali masih berlaku selama ini jika pebiliar bisa turun di 8 nomor sekaligus pada Porprov Bali.
“Di Porprov Bali 2025 sudah tidak bisa lagi seperti itu. Jadi pemisahan disiplin itu juga nantinya tujuannya agar pebiliar muda mempunyai kesempatan berlaga di Porprov Bali semakin banyak jumlahnya,” tegas Welly.
Hal senada juga diakui Laksmi Duarsa.
“Ya itu memang benar semuanya harus mengacu dengan aturan di PON. Bahkan saya sudah dilapori pengurus saya kalau saat Kejurnas biliar lalu di Jakarta, pengurus kami sempat ditertawakan pengurus POBSI provinsi lainnya, karena Bali satu-satunya yang belum melakukan perubahan itu di Indonesia,” terang dokter spesialis perawan kulit dan kelamin itu.
Selain itu lanjut Laksmi Duarsa, semua itu tujuannya untuk memperbaiki sistim regenerasi dan mencuatkan bibit-bibit pebiliar muda di Bali.
“Itu bagus dan saya sangat setuju dengan semua itu,” demikian Laksmi Duarsa. (ari/jon)








