
DENPASAR – Dalam menghadapi pra-PON di tahun 2023 ini, para cabang olahraga (cabor) agar menggunakan taktik dan strategi yang tepat dalam mengirimkan para atletnya dengan membaca peluang atau kans lolos ke pra-PON, atau tidak sekedar lolos pra-PON namun peluang sangat kecl meraih medali di nomor yang diikuti.
“Artinya cabor kan paham dan sangat mengerti melihat peluang utamanya dalam meraih medali di PON XXI/2024 di Aceh dan Sumatera Utara (Sumut). Kalau sekedar lolos tapi di nomor yang diikuti sangat kecil pelaung meraih medali, sebaiknya tidak diikuti di pra-PON,” tutur Sekretaris Umum (Sekum) KONI Bali, Nyoman Yamadhiputra saat dihubungi karena mengikuti Munas KONI Pusat di Jakarta, Minggu (12/3/2023).
Semua itu lanjutnya, karena cabor dan pelatih cabor pastinya lebih megetahui kekuatan lawan dan nomor mana yang tak berpeluang meraih medali PON 2024untuk tidak dikirimkan atletnya. Kecuali peluang itu kelihatan fifty-fifty atau persaingan atlet Bali 75% bisa berpeluang meraih medali.
“Artinya kan akan sia-sia jika hanya mengejar lolos PON saja di pra-PON setelah itu menjadi bulan-bulanan lawan. Nah berangkat dari itulah kami minta cabor benar-benar mengutamakan taktik dan strategi seperti itu. Pasalnya muaranya adalah meraih medali di PON bukan hanya bangga lolos dari pra-PON saja,” tegas Yamadhiputra yang juga Ketua Umum Pengprov FOPI Bali itu.
Disebutkan pria yang juga Ketua Harian Pengprov Perguruan Pencak Silat Perisai Diri (PD) Bali tersebut, KONI Bali sendiri akan memetakan juga semua itu, termasuk secara matematis dalam menancapkan target di PON 2024 tahun depan usai pra-PON semua cabor telah digelar.
“Ayo kita bersama-sama benar-benar mengirimkan atlet di pra-PON berdasarkan kualitas bukan kuantitas. Kita fokus utamanya untuk Raihan medali emas di PON 2024 nantinya,” demikian Yamadhiputra yang juga mantan Ketua Binpres KONI Bali itu. (ari/jon)








