
DENPASAR – Gelaran Porprov Bali yang selalu rutin dihelat 2 tahun sekali diharapkan tidak hanya sebagai hajatan olahraga terbesar di Bali saja. Melainkan paling penting yakni dijadikan ajang mencuatan regeerasi atlet Bali. Dengan demikian regenerasi akan bisa benar-benar bisa menjadi pengganti para atlet seniornya.
Seperti diutarakan Dewan Kehormatan KONI Bali, I Ketut Suwandi. Para atlet dan kontingen melakoni Porprov Bali harus dengan fokus dan semangat.
“Porprov jangan sekadar rutinitas dua tahunan saja, karena itu bukan tujuannya. Tapi bagaimana membina atlet, membentuk karakter, sekaligus meraih prestasi maksimal dengan hitung-hitungan tepat dan terperinci,” tutur Ketut Suwandi di Denpasar, Senin (3/10/2022).
Mantan Ketua Umum KONI Bali itu berharap, Porprov Bali XV nanti berjalan dengan sukses. Semua stakeholder dalam hal ini KONI kabupaten/kota harus berpacu dan jangan bicara lagi soal kekuatan terbatas.
“Carilan alternatif dan tak harus bicara soal kuantitas melainkan kualitas. Atlet sedikit tidak masalah asalkan yang benar-benar memiliki potensi dan peluang meraih prestasi,” terang Suwandi.
Selain itu lajutnya, cabor agar memperbanyak kuantitas pelatih dengan mencetak pelatih yang mumpuni. Dan jangan malu serta berada di zona nyaman untuk menunjuk pelatih itu-itu saja. Selanjutnya, mulai memberikan jam terbang kepada pelatih muda yang potensial, sehingga regenerasi pelatih menjadi bagus.
“Di pertandingan internasional, pelatih sangat berperan. Bagaimana pelatih itu bisa mengubah jalannya pertandingan. Ini yang harus kita kembangkan bersama. Dari zaman A ke zaman Z jangan pelatihnya itu-itu saja, sehingga pelatih baru yang memang potensial tak memiliki kesempatan,” urainya.
Selain itu, sport science juga sangat berpengaruh di olahraga modern seperti sekarang. Maka dari itu, Suwandi meminta pemerintah, akademisi, maupun perguruan tinggi getol memperhatikan dan wajib mendukung perkembangan dunia olahraga dengan ilmu pengetahuan.
“Sekarang olahraga prestasi bukan bicara keberuntungan lagi. Tapi prestasi terukur, terstruktur, dan terlaksana ini bisa ditunjang dengan sport science,” tutup Suwandi. (ari/jon)








