
KARANGASEM – Sebagai slah satu menjalim kebersaman, keakraban dan silaturhami, Ketua DPRD Karangansem bersama Kajari serta awak media yang bertugas di Karangasem melakukan rafting di Sungai Telaga Waja Kecamatan Rendang, Karangasem, Minggu (22/5/2022).
Rombongan mulai turun menyusuri alur sungai nan jernih itu sekitar pukul 09.30 Wita. Treck sepanjang 18 kilometer dengan jarak tempuh sekitar 2 jam 30 menit, menyuguhkan beragam tantangan. Rombongan tiba di titik poin wilayah Apet , Sidemen, sekitar pukul 12.00 Wita.
Selain harus menghidari rintangan jembatan bamboo yang melintangi sungai, perahu karet yang ditumpangi rombongan juga harus ektra waspada agar tidak tersangkut di bebatuan besar.
“Ini baru seru, arus airnya cukup keras dan besar,” ucap Kajari Karangasem Aji Kalbu Pribadi.
Pria asal Sunda itu mengaku sudah dua kali rafting di alur sungai Telaga Waja nan jernih itu. Saat rafting yang perdana, kata Aji Kalbu Pribadi, dia tidak menemukan keseruan itu, karena saat itu airnya kecil.
“Kalau airnya besar begini benar-benar menguji adrenaline, tapi tidak melelahkan,” ucapnya.
Beda halnya dengan Ketua DPRD Karangasem I Wayan Suastika. Politisi PDI Perjuangan asal Juuk Legi, Desa Duda Timur, Kecamatan Selat ini, sudah berkali-kali melakukan arung jeram di sungai berair air jernih yang mengalir dari kaki Gunung Agung itu. Arung jeramnya bersama rombongan Kejari Karangasem dan awak media merupakan idenya sejak setahun lalu, namun baru kali ini bisa dilaksanakan.
“Ingat ya, hutang raftingnya sudah lunas. Nanti kalau teman-teman berkenan ayo kita ulangi lagi. Kita buat keseruan lagi agar imun tubuh meningkat,” ucapnya.
Satu jam perjalanan, rombongan turun menikmati air terjun yang meluncur dari tebing sisi kanan sungai Telaga Waja, beberapa menit menimkati kesejukan kucuran air terjun, rombongan kembali naik perahu karet. Selanjutnya menepi turun minum di sebuah warung kecil yang tersedia dibantaran sungai tersebut.
“Stop,” kata Komang Putra skipper atau pemandu rafting yang membawa rombongan awak media menjelajahi sungai dengan banyak bebatuan besar itu. Stop, berarti tidak perlu mengayuh dayung. Bila pemandu memberikan intruksi dan maju itu artinya bersama-sama mengayuh dayung.
Air yang deras mengalir di bebatuan, kemudian menurun butuh pengendalian dan ketenangan untuk tetap membawa perahu karet mengikuti alur sungai. Hampir 2,5 jam melalui jeram di sungai Telaga Waja. Pemandu memberikan aba-aba untuk posisi duduk di dasar perahu, kaki di pinggiran atas, dan kepala berbaring di tempat duduk. Cara ini dilakukan untuk menjaga keseimbangan untuk melewati turunan tajam. Dengan cekatan pemandu menjaga perahu agar tidak terbalik.
Bukit dan tebing tinggi dilewati. Air terjun yang langsung dari atas bukit terlihat jatuh di sungai, perahu karet sempat membentur tebing ini.
“Awas perahunya terbalik,” seru skipper setelah perahu yang awak media tumpangi ditabrak perahu karet rombongan dari Kejari Karangasem. (par/jon)








