
KUTA – Dalam kurun waktu sepekan ke depan, sejumlah wilayah di Indonesia berpotensi mengalami cuaca ekstrim. Salah satu yang diminta untuk turut waspada, yakni Bali.
Sub Koordinator Subidang Pelayanan Jasa Balai Besar Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BBMKG) Wilayah III Denpasar Tirtha Wijaya tidaklah memungkiri hal tersebut. Kata dia, data itu dikeluarkan oleh Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Pusat.
Mengacu informasi bersangkutan, potensi tersebut didasarkan atas analisis dinamika atmosfer terkini. Dari analisa itu, BMKG mengidentifikasi adanya potensi peningkatan curah hujan dalam periode sepekan ke depan di beberapa wilayah Indonesia.
“Kategori hujan lebat adalah hujan dengan jumlah curah hujan 50-100 mm/hari atau 10-20 mm/jam,” ungkapnya, Kamis (17/2/2022).
Pemicu dari peningkatan curah hujan tersebut, kata dia, yakni peningkatan aktivitas dinamika atmosfer seperti aktifnya Madden Julian Oscillation (MJO) yang saat ini berada pada fase 3 di sekitar Samudera Hindia. Itu menunjukkan kontribusi cukup signifikan terhadap pembentukan awan hujan di wilayah Indonesia.
“MJO adalah osilasi yang merupakan gangguan tropis yang merambat ke arah timur sepanjang daerah tropis dengan siklus 30-60 hari. Kondisi MJO saat ini aktif di fase 3, yang artinya berkontribusi terhadap pembentukan awan-awan hujan di wilayah Indonesia, terutama Indonesia bagian barat,” jelasnya.
Kondisi tersebut, sambung dia, juga diperkuat dengan fenomena gelombang atmosfer yaitu gelombang Kelvin dan Rossby Ekuatorial yang cukup aktif di beberapa wilayah. Selain itu, ada juga pola tekanan rendah yang memicu terbentuknya pumpunan dan belokan angin yang diperkuat juga dengan adanya pengaruh labilitas udara dalam skala lokal.
“Gelombang Kelvin dan Rossby merupakan fenomena dinamika atmosfer yang mengindikasikan adanya potensi pertumbuhan awan hujan dalam skala yang luas di sekitar wilayah aktif yang dilewatinya dan biasanya terjadi dalam kurun waktu beberapa hari,” terangnya.
Kaitan dengan itu, terdapat 30 wilayah di Indonesia yang disebut berpotensi mengalami hujan sedang-lebat yang disertai kilat/petir. Yakni Aceh, Sumatera Utara, Riau, Jambi, Bengkulu, Sumatera Selatan, Lampung, Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Sulawesi Utara, Gorontalo, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Maluku Utara, Maluku, Papua Barat, Papua serta Bali.
Selain itu, sambung dia, juga terdapat potensi gelombang tingi (Rough Sea) 2,5 – 4 meter di sejumlah perairan. Yakni di Laut Natuna Utara, perairan utara Sabang, perairan barat Aceh hingga Kepulauan Nias, perairan barat Kepulauan Mentawai, perairan Enggano-Bengkulu, perairan barat Lampung, Samudera Hindia barat Sumatera, Selat Sunda bagian barat dan selatan, perairan selatan Banten hingga Jawa Timur, Samudera Hindia selatan Banten hingga Nusa Tenggara Barat, perairan utara Kepulauan Sangihe, perairan utara Kepulauan Talaud, Laut Maluku bagian utara, perairan utara Kepulauan Halmahera, Laut Halmahera, perairan utara Papua Barat, serta Samudera Pasifik utara Papua Barat hingga Papua.
“Masyarakat kami imbau agar tetap waspada dan berhati-hati terhadap potensi cuaca ekstrim ini. Di antaranya seperti hujan lebat hingga sangat lebat yang dapat disertai kilat/petir, angin kencang, gelombang tinggi, dan lain sebagainya. Selain itu juga mewaspadai dampak terhadap bencana hidrometeorologi yang dapat ditimbulkan seperti banjir, tanah longsor, banjir bandang, genangan, pohon tumbang, dan lain-lain,” sambungnya. (adi/jon)








