
GIANYAR – Ilmu pengetahuan di bidang medis berkembang pesat. Kendati demikian, tidak sedikit masyarakat terkena penyakit meyakini kesembuhan melalui pengobatan alternatif.
Seperti terlihat di griya (rumah) praktisi pengobatan tradisional, Ida Bagus Made Arjawa (46) di Desa Bona, Kecamatan Blahbatuh, Kabupaten Gianyar. Dari pagi hingga tengah malam, ratusan orang mempercayakan penanganan kesehatan di tangan Gus Arjawa–sapaan akrab Ida Bagus Made Arjawa.
Kepada WARTA BALI, Gus Arjawa mengaku memperoleh anugerah bisa memberikan pengobatan dari Ida Bhatari Durga, Bhatara Siwa, Ratu Gede Dalem Peed, Ratu Niang, Bhatara Guru Lelangit Ida Danghyang Dwijendra.
Sejatinya, Gus Arjawa telah lama membuka praktik pengobatan tradisional. Sebelum pandemi Covid-19, ia menerapkan sistem jemput bola atau mendatangi pasien ke rumah.
“Kebetulan saya suka traveling. Jadi, sambil mengobati pasien sambil melali,” kata Gus Arjawa.
Begitu pemerintah menetapkan wabah Corona sebagai bencana nasional, Gus Arjawa melayani pengobatan di griya dengan menerapkan protokol kesehatan (prokes) ketat.
Setiap harinya, Gus Arjawa bisa mengobati 300 pasien yang datang dari berbagai daerah di Bali. Keluhannya, mulai dari penyakit ringan hingga parah, baik medis maupun non medis seperti kesemutan hingga stroke.
“Kalau hanya keluhannya kesemutan dalam dua menit bisa disembuhkan. Kalau sakitnya sudah lama perlu waktu dan proses,” ujarnya.
“Biasanya saya bilang ke pasien selama menjalani pengobatan meyakini Ida Bhatara Guru dan alam semesta karena alam merupakan sumber kehidupan, oksigen, tanah, matahari, dan air. Itu adalah kunci kesembuhan. Hal itulah yang membuat saya bergerak melakukan pengobatan dengan cara wariga meteor,” imbuhnya.
Pengobatan wariga meteor dimaksud adalah memanfaatkan segala sesuatu yang disediakan oleh alam. Gus Arjawa memberikan singkat kata Meteor yaitu Menuju Tepat Orang.
“Karena kalau tidak bertemu dengan orang yang tepat, maka kemana pun berobat tidak akan sembuh dan pasti sembuh asalkan berobat kepada saya jujur dan sabar. Kalau tidak jujur kemanapun dia berobat takkan pernah sembuh,”ungkap alumnus ISI Denpasar ini.
Sebelum terjun ke bidang pengobatan, Gus Arjawa merupakan eksportir kerajinan bambu dan memiliki galeri. Namun, ia meyakini karmanya tidak berkecimpung di dunia bisnis dan kini mengabdikan diri untuk memberikan pengayoman melalui pengobatan kepada masyarakat.
Dalam memberikan pengobatan, Arjawa juga tidak pelit ilmu karena berharap sistem pengobatannya bisa diterapkan oleh masyakakat untuk mengobati anggota keluarga yang sakit.
Menariknya, selama mengobati pasien, Gus Arjawa tidak menyentuh pasien, melainkan menggunakan energi jarak jauh. Ia pun tidak mematok biaya pengobatan.
“Sesari pada pejati yang dihaturkan seiklasnya dan semampunya. Sejatinya, di lontar penyembuhan, uang yang harus digunakan adalah uang kepeng. Tapi saya ikhlas melayani sehingga tidak ada unsur melanggar lontar atau merampok pasien,” tandas pria kelahiran tahun 1976 ini. (jay)








