
DENPASAR – Kabar soal bonus medali PON XX/2020 di Papua mengejutkan yang dijanjikan Gubernur Bali Wayan Koster, nampaknya kini menjadi pertanyaan atlet peraih medali utamanya medali emas dan pelatih cabang olahraga (cabor). Hal ini karena kabarnya untuk medali emas diberikan bonus Rp 200 juta dengan potongan pajak 25 persen.
Salah seorang atlet yang berharap nilai bonus dan pajak yang dinilai besar itu dikaji ulang yakni Maria Natalia Londa. Atlet atletik Bali yang sudah berkali-kali menyumbangkan medali emas untuk Bali bahkan Indonesia itu juga berharap setidaknya bonus tersebut sepadan dengan perjuangan dan pengorbanan para atlet peraih medali emas.
“Saya memang berharap hal itu bisa dikaji ulang oleh Pemprov Bali. Bagaimanapun juga, atlet juga sudah berjuang dan berkorban dengan maksimal. Pasalnya yang saya terima kabar dari Provinsi tetangga, untuk peraih emas bonus yang diberikan NTB Rp 300 juta tanpa dipotong pajak dan NTT bonus emas Rp 250 juta,” ungkap Maria, Senin (7/2/2022).
Atlet peraih 8 medali emas untuk Bali mulai di PON tahun 2008, 2012, 2016 dan 2021 itu, mengharapkan kajian itu utamanya terhadap nilai bonus dan pajak yang dinilainya terlalu besar. Tak hanya untuk atlet saja, Maria juga berharap terhadap bonus pelatih.
“Saya berharap dengan semua itu ada kejelasan dan kepastian apa yang menjadi harapan saya yang diberikan baik itu dari pemerintah dalam hal ini Dissikpora atau dari KONI Bali sebagai induk organisasi di Bali,” tegas Maria.
Ketua Umum KONI Bali Ketut Suwandi ketika dikonfirmasi mengutarakan dan meminta, agar semua atlet dan pelatih untuk bersabar dan memaklumi kondisi keuangan pemerintah dalam hal ini Pemprov Bali sebagai pemberi bonus, ditengah masa pandemi Covid-19.
“Permintaan saya agar semua itu dipahami karena saat ini masih masa pandemi,” pungkas Suwandi. (ari/jon)








