
DENPASAR – Beberapa pelatih penerima award atau bonus yang atletnya meraih medali di PON XX/2020 yang digelar tahun 2021 di Papua, bingung dengan pembagian nilai bonus. Pasalnya jumlahnya tidak sesuai dengan perbandingan jumlah pelatih lainnya. Hal ini terutama datangnya dari pelatih yang atletnya meraih medali emas.
Seperti yang diutarakan salah seorang pelatih karate PON Bali Aditya Putra Thama, karate sendiri meraih dua medali emas namun satu pelatih diberikan bonus Rp 85 juta sebelum dipotong pajak da nada tiga pelatih. Dengan demikian tiga pelatih memperoleh total bonus Rp. 255 juta.
“Lah uniknya ada cabang olahraga yang meraih satu medali emas justru ada 3 pelatih dan ofisial memperoleh bonus masing-masing Rp 125 juta sehingga total Rp 375 juta. Ini untuk hitungan jumlah emas diraih cabornya. Ada lagi cabor meraih 2 emas ada dua pelatih dan satu ofisial justeru bonusnya masing-masing Rp 200 Juta. Jadi yang membuat saya bingung itu bagaimana perhitungan pembagian untuk bonus pelatih?” tanya Aditya kepada media ini, Senin (7/2/2022).
Disebutkannya, dirinya juga sempat bertanya ke pihak Disdikpora Bali. Namun yang diperoleh informasi jika aturan bonus itu sendiri merupakan pengajuan dari pihak KONI Bali. Tapi setahu dirinya, bonus itu merupakan keputusan penuh pemerintah.
“Ya semoga ke depannya pengaturan bonus itu akan dibuat lebih jelas lagi dan disebutkan sejak awal sebelum bertanding ke PON. Dengan demikian atlet dan pelatih paham sejak awal dan tidak mempertanyakan soal seperti itu lagi. Sebenarnya lebih bagus lagi yakni perhitungan bonus pelatih itu sama dengan yang terjadi saat di PON XIX/2016 di Jawa Barat lalu, dengan perhitungan bonus pelatih diberikan berdasarkan akumulasi bonus raihan medali atlet,” demikian Aditya. (ari/jon)








