
KUTA – Jalak Bali diangkat sebagai salah satu karakter dalam sebuah karya video musik garapan siswa-siswi SMK Animasi dan Seni Ilustrasi Raden Umar Said (RUS) Kudus. Karya berjudul Sabda Alam itupun sempat diputar pada hari terakhir Balinale International Film Festival, di Park 23 Cinema XXI, Kuta, pada Minggu (14/11/2021).
Dalam video animasi tersebut, karakter Jalak Bali digambarkan dengan amat detail. Baik dari segi anatomi, gerakan ataupun perilakunya. Termasuk ketika burung yang dikenal dengan nama Curik Bali itu bertemu pasangannya.
Selain burung hutan bagian barat Pulau Bali itu, karya para siswa binaan Djarum Foundation tersebut juga mengangkat sejumlah karakter burung endemik lainnya. Yakni Rangkong Gading, Kakatua Kecil Jambul Kuning dan Ekek Geling.
Di dalam video berdurasi 4 menit 24 detik itu, burung-burung tersebut secara bergiliran seolah sedang menyanyikan lagu Sabda Alam ciptaan Chrisye dan Junaedi Salat yang diaransemen kembali oleh Tohpati.
Untuk vokalnya, diisi Eva Chelia (Kakatua Jambul Kuning), Fadly Padi (Jalak Bali), Mytha Lestari (Rangkong Gading Betina), Mario Ginanjar (Ekek Geling), Leisha Ramadhania (Anak Burung Rangkong).
CEO RUS Animation Roy Tok menyampaikan, lahirnya karya video musik animasi Sabda Alam berangkat dari rasa keprihatinan pada siswa SMK RUS terhadap burung-burung endemik Indonesia seperti Jalak Bali dan Ekek Geling Jawa yang keberadaannya makin terancam punah. Sama halnya dengan Kakatua Kecil Jambul Kuning dan Rangkong Gading, yang masuk status kritis (critically endangered) berdasarkan Daftar Merah Jenis Terancam Punah dari Badan Konservasi Dunia (IUCN Red List).
Hadirnya Sabda Alam dengan audio dan visual yang menyentuh hati, diharapkan mampu mengedukasi masyarakat untuk turut melestarikan ekosistem alam. Salah satunya dengan tidak melakukan perburuan dan penangkapan liar, karena perilaku semacam itu diyakini berkontribusi besar terhadap penurunan populasi dan kepunahan berbagai jenis burung langka di Indonesia, serta menyebabkan hilangnya ekosistem dan kerusakan lingkungan.
“Kami ingin generasi ke depan masih bisa melihat dan mendengar suara burung secara langsung. Bukan hanya melihat dan mendengarkan suara burung melalui Youtube atau Spotify,” ungkap Roy Tok yang juga salah satu Directors Sabda Alam, didampingi seorang siswa SMK RUS Luce Chiaro yang berperan sebagai salah satu Visual Effect Artist dalam Sabda Alam.
Kini, sambung dia, video musik animasi Sabda Alam sudah dapat disaksikan pada kanal Youtube RUS Animation Studio. Bahkan sejak diunggah pada 12 September 2021 lalu, video tersebut sudah disaksikan oleh lebih dari 3 juta penonton.
Karya puluhan anak SMK RUS tersebut juga mendapat sambutan positif dari para sineas, produser, aktor, maupun penikmat film. Termasuk di antaranya seorang sutradara, penulis skenario, dan produser ternama yakni Garin Nugroho. Ditemui di sela pelaksanaan Balinale, Garin Nugroho bahkan menyebut bahwa saat ini anak-anak SMK memang patut diberi ruang untuk berkarya.
“Saya sudah menonton beberapa. Sangat luar biasa anak-anak SMK itu membuat animasi. Jadi pas sekali. Kita kan punya kebudayaan menggambar, melukis, dan lain-lain, jadi kebudayaan film akan jadi masa depan kita,” ungkap sutradara film Sepeda Presiden, yang poster resminya sudah dirilis bertepatan dengan 40 tahunnya berkarya, Minggu (14/11/2021) tersebut.
Animasi, menurut dia, sekarang ini menjadi bagian dari yang disebut dengan komunikasi bisnis dan hiburan. Sehingga itu dipandang memiliki peluang sangat besar untuk ke depannya.
“Pesan saya untuk anak SMK, teknologi sudah di tangan, sekarang apakah mau konsumtif atau produktif? Kalau mau produktif, ya berlatih dan belajar mencipta. Teknologinya juga sudah tersedia,” sebut sutradara dengan sederet prestasi nasional ataupun internasional itu, sembari mengabarkan bahwa film Sepeda Presiden adalah wujud kecintaannya terhadap anak-anak, musik, Indonesia, dan negeri Papua. (adi/jon)








