
KUTA – Balai Wilayah Sungai (BWS) Bali Penida bersiap melanjutkan proses pengisian pasir di Pantai Kuta dan Legian. Langkah sosialisasi telah dilaksanakan pada Kamis (9/7/2026) lalu, dengan mengambil tempat di Ruang Pertemuan Kantor Camat Kuta.
Seperti diwartakan sebelumnya, proses pengisian pasir serangkaian Bali Beach Conservation Project (BBCP) Phase II Package 2 Kuta-Legian-Seminyak awalnya rencana dilakukan menggunakan kapal Trailing Suction Hopper Dredger (TSHD). Dari kapal yang berlokasi ratusan meter di tengah laut ini, pasir kemudian disalurkan ke pesisir pantai menggunakan jaringan pipa yang telah disiapkan sebelumnya.
Namun sayang, pada April lalu, kapal besar ini mengalami insiden akibat cuaca buruk. Tanpa menunggu lama, metode alternatif sekaligus percepatan langsung dicetuskan dengan target pelaksanaan pada bulan Juli ini. Metode alternatif ini memanfaatkan 2 unit kapal Sand Carrier berkapasitas 2000 m3 dan 1 unit kapal SPMB Tona 1.
Meski demikian, metode alternatif ini tidak serta merta bisa langsung dilaksanakan. Ada dokumen-dokumen perizinan tambahan yang harus dipenuhi terlebih dahulu, termasuk yang mensyaratkan pelaksanaan sosialisasi kembali kepada masyarakat. Mengingat dalam metode ini, akan ada kapal yang harus sandar di Pantai Kuta.
“Seperti diketahui, Pantai Kuta pemanfaatannya bukan untuk pelabuhan atau sandar kapal, sehingga diperlukan izin tambahan. Kalau izin-izin dasar, kami sudah miliki. Selanjutnya yang diperlukan adalah penyampaikan dan persetujuan masyarakat. Makanya kami adakan sosialisasi sesegera mungkin, dalam rangka percepatan proses pengisian pasir,” ungkap Kepala SNVT Pelaksana Jaringan Sumber Air (PJSA) BWS Bali Penida, I Gede Lanang Sunu Perbawa.
Dalam penyelenggaraan sosialisasi, pihak pelaksana proyek yakni dari Adhi-Minarta JV, telah secara gamblang menyampaikan rencana pekerjaan yang akan dilaksanakan. Rencana pengisian pasir inipun mendapat sambutan positif dari sejumlah tokoh masyarakat yang hadir. Namun demikian ada pula sejumlah penekanan disampaikan, di antaranya mengenai penguatan komunikasi dan koordinasi di lapangan, serta peminimalisiran dampak gangguan terhadap aktivitas wisata di pesisir pantai.
“Kapal Sand Carrier nantinya akan membawa pasir dari lokasi sumber ke pinggir Pantai Kuta. Kapal tersebut rencananya akan bersandar pada saat air pasang dengan memanfaatkan gelombang pasang. Kemudian kapal SPMB Tona 1 akan berhenti di posisi tengah laut dengan jarak yang tidak begitu jauh dari bibir pantai. Kapal inilah yang kemudian akan menyemprotkan pasir ke pinggir pantai dengan menggunakan pipa, sama proses sebelumnya. Ini kami lakukan untuk menambah kapasitas produksi, mengejar ketertinggalan sebelumnya,” jelasnya.
Sandarnya kapal Sand Carrier ini, ditegaskan Lanang, tidak akan sampai selama berhari-hari. Kapal ini hanya akan sandar untuk melakukan unloading pasir dengan conveyor. Begitu selesai, maka kapal akan kembali ke sumber pasir. “Jadi kapal ini akan bolak balik melakukan pengangkutan pasir dari sumber,” sambungnya.
Dalam proses pengisian pasir di wilayah Kuta dan Legian, telah dipetakan akan ada dua landing point. Pertama yakni di sekitar Tsunami Shelter, dan kedua yaitu di sekitar Beachwalk. “Kami dalam hal ini menginginkan percepatan. Jadi kalau memang memungkinkan pelaksanaan berbarengan di kedua landing point, maka itu akan kami lakukan,” imbuhnya.*








