
DENPASAR – Gubernur Bali Wayan Koster menancapkan pedang menandai dibukanya Festival Seni Bali Jani (FSBJ) III tahun 2001 di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Bali, Sabtu 23 Oktober 2021 petang.
Acara pembukaan diawali pertunjukan seni Medeeng Anyar (Karnaval Virtual) dan dipungkasi Teater Opera Musikal berjudul “Pusaka Rimba” yang dibawakan Teater Kini Berseri berkolaborasi dengan sejumlah sanggar dan komunitas teater lainnya.
Adalah I Gede Benny Dipo Pratama,S.S., selaku penulis naskah sekaligus sutradara “Pusaka Rimba” yang mengisahkan seorang pangeran dari kerajaan manusia mencari harta tersembunyi di hutan.
Di sebuah kerajaan bernama Wanagapura, hiduplah seorang raja yang sedang mendekati akhir hayatnya. Sebelum tutup usia, beliau memberikan surat wasiat kepada putra mahkota, Pangeran Barayuga. Surat wasiat tersebut berupa lontar yang diwariskan secara turun-temurun oleh raja-raja sebelumnya.
Lontar berisi aksara yang menyatakan Raja Wanagapura di masa lalu memiliki sebuah harta yang ingin diwariskan kepada generasi raja-raja berikutnya. Harta tersebut ia kubur di bawah kaki gunung dekat hutan rimba di sekitar kerajaan.
Setelah memberikan surat wasiat, sang raja wafat. Pangeran bersumpah dan bertekad untuk bisa menemukan harta tersebut agar dapat memulihkan kondisi ekonomi kerajaan yang tengah dilanda krisis.
Barayuga memerintahkan seluruh pasukan kerajaan untuk melakukan pencarian ke seluruh wilayah hutan dan menghalalkan segala cara untuk bisa menemukan harta tersembunyi tersebut, meskipun harus menebang ataupun membakar pepohonan.
Garapan teater ini didukung oleh tata lampu dari BTS Production yang memberi pesan menjaga kelestarian alam dan kelangsungan hidup manusia tetap terjaga dengan baik.
Meski sejak awal pementasan terkesan menghadirkan nuansa parodi, tapi tak melenceng dari konsep yang mengangkat tema pelestarian hutan. “Dari konsep garapan cukup bagus. Cuma karena ini adegan parodi terlalu mendominasi agar kemasan yang menarik maka konsep kekaryaan yang bagus tidak terkesan main-main, perlu menjadi perhatian penggarap ke depan, ” kata pengamat budaya, Prof. I Wayan Dibia yang ditemui usai pementasan.
FSBJ III 2021 mengangkat tema “Jenggala Sutra: Susatra Wana Kerthi” yang bermakna “Semesta Kreativitas Terkini: Harmoni Diri dan Bumi dalam Keluasan Penciptaan Baru”. Festival berlangsung selama dua pekan menghadirkan 45 program atau mata acara. Di antaranya, Medeeng Anyar (Karnaval Virtual), Pawimba (Lomba), Adilango (Pergelaran) pentas ragam seni dari sejumlah sanggar, grup teater, serta komunitas seni, Utsawa (Parade) pentas ragam seni dari duta kabupaten/kota di Bali, Megarupa (Pameran Seni Rupa), Timbang Rasa (Sarasehan), Beranda Pustaka (Bursa Buku), dan Bali Jani Nugraha FSBJ III 2021. (sur)








