
JAYAPURA – Penantian panjang Tim bulutangkis putri PON Bali selama 73 tahun akhirnya membuahkan hasil. Meski hanya meraih perunggu, medali ini telah dinanti sejak digelarnya PON I tahun 1948 di Solo silam.
Kontingen Bali meraih medali perunggu setelah di babak semi final beregu putri harus mengakui keunggulan Jawa Timur (Jatim) dengan skor 0-2, pada semi final di GOR Waringin Kota Jayapura Papua, Jumat 8 Oktober 2021. Pada single pertama, pebulutangkis muda Bali, Komang Ayu Cahya Dewi mengakui keunggulan lawannya Sri Fatmawati dua set langsung 11-21 dan 19-21.
Sementara di ganda putri, pasangan Bali Ayu Gary Luna Maharani dan Made Deya Surya Saraswati harus mengakui keunggulan pasangan Jawa Timur, Febrina Dwi Puji Kusma dan Marsheilla Gischa Islami dengan dua set langsung 9-21 dan 9-21.
Dengan kekalahan langsung 0-2 maka partai tunggal berikutnya antara pebulutangkis Bali Ni Made Pranita Sulistya Devi melawan pebulutangkis Jatim Desima Aqmar Syarafina otomatis tidak dipertandingkan.
Ketua Umum Pengprov PBSI Bali Wayan Winurjaya menegaskan, secara kualitas memang ada perbedaan meski tidak jauh.
“Ganda kita kalah kelas karena lawa yang dihadapi merupakan ganda pelatnas dari Jatim). Tak hanya itu, di nomor single, Komang Cahya juga menghadapi seniornya di PB Jaya Raya yang sudah kerapkali turun di even-even internasional,” tegas Winurjaya.
Perunggu itu disebutkannya juga merupakan kebanggaan karena memang sejak pertama digelarnya PON untuk bulutangkis putri baru kali ini Bali meraih medali.
“Semoga medali perunggu ini menjadi motivasi pebulutangkis putra dan putri Bali lainnya yang bakal turun di kategori perorangan. Semoga di pertandingan – pertandingan selanjutnya akan muncul lagi medali-medali selanjutnya. Semoga ke depannya akan terus mencetak prestasi-prestasi yang lebih bagus lagi,” pungkas Winurjaya. (ari)








