
DENPASAR – Pesta Kesenian Bali (PKB) telah memasuki usia ke-48 sejak pertama kali digelar pada 1979. Hampir setengah abad menjadi panggung terbesar kebudayaan Bali, PKB terbukti mampu menjaga denyut seni tradisi sekaligus melahirkan generasi baru seniman.
Namun, di balik kemegahan parade, gemuruh gamelan, dan padatnya penonton, masih ada ruang yang belum terisi: kritik seni yang sehat dan berkelanjutan.
Pemerhati seni dan penulis budaya asal Sukawati, Gianyar, Kadek Suartaya, menilai PKB selama ini lebih banyak menghadirkan pertunjukan dan apresiasi, tetapi belum memberi ruang yang cukup bagi tradisi kritik seni.
“Di mana posisi kritik? Di mana forum evaluasi yang mengulas pencapaian estetik, kualitas karya, maupun arah perkembangan seni?” menjadi pertanyaan penting yang menurutnya harus dijawab dalam perjalanan PKB ke depan.
Menurutnya, kritik seni bukanlah upaya mencari kelemahan atau menjatuhkan seniman. Sebaliknya, kritik merupakan bagian dari tanggung jawab intelektual untuk membaca, menguji, dan memberi arah perkembangan sebuah karya budaya.
“Kritik bukan pisau untuk merobek karya, tetapi sorotan tajam untuk membuka makna dan menguji gagasan,” ujarnya.
Ia menilai tanpa kritik, perkembangan seni berisiko berjalan dalam ruang yang hanya dipenuhi pujian. Apresiasi memang penting, tetapi seni juga membutuhkan ruang dialog, perdebatan, dan evaluasi agar terus berkembang.
Selama ini, kata dia, media massa juga semakin jarang menghadirkan kritik seni secara mendalam. Pemberitaan seni lebih sering berhenti pada aspek seremoni dan dokumentasi kegiatan, belum banyak masuk pada kajian kualitas karya, estetika, maupun gagasan kreatif yang ditawarkan seniman.
Akibatnya, PKB berpotensi hanya meninggalkan jejak dokumentasi visual, tanpa catatan intelektual yang merekam perjalanan estetiknya dari tahun ke tahun.
PKB Bukan Sekadar Festival
Meski demikian, perjalanan panjang PKB menunjukkan perannya yang sangat besar dalam membangun ekosistem budaya Bali.
Budayawan Prof. I Made Bandem dan Prof. Dr. Wayan Dibia dalam diskusi budaya Kawiya Bali bekerja sama dengan PWI Bali menegaskan, PKB telah berkembang dari sekadar festival kesenian menjadi institusi budaya yang memiliki fungsi konservasi, inovasi, pendidikan, diplomasi budaya, hingga pembangunan kebudayaan Bali.
PKB menjadi ruang pertemuan antara tradisi dan kreativitas baru. Pemerintah, seniman, masyarakat, dan media memiliki peran masing-masing dalam menjaga keberlangsungannya.
Menuju PKB Emas 2028, tantangan Bali bukan hanya mempertahankan warisan budaya, tetapi memastikan PKB mampu menjadi pusat kebudayaan dunia yang tetap berakar pada nilai lokal.
Anggaran PKB Perlu Diperkuat
Selain kritik seni, persoalan pendanaan juga menjadi perhatian dalam diskusi budaya PKB 2026. Sejumlah tokoh budaya mendorong agar anggaran PKB ditingkatkan hingga mencapai sekitar Rp20 miliar.
Pengurus PWI Bali sekaligus Guru Besar Universitas Udayana Prof. Darma Putra dan Nyoman Winata menilai anggaran PKB saat ini belum sepenuhnya sebanding dengan biaya yang harus dikeluarkan seniman dalam mempersiapkan karya.
Persoalan lain adalah ketimpangan kemampuan anggaran antara kabupaten/kota. Daerah dengan Pendapatan Asli Daerah (PAD) besar mampu memberikan dukungan lebih kuat, sementara daerah lain memiliki keterbatasan sehingga tidak semua mata acara dapat diikuti secara maksimal.
Kondisi tersebut dinilai dapat berdampak terhadap keberlanjutan regenerasi seni Bali.
Sebab, PKB terbukti menjadi ruang pembinaan seniman muda. Sebelum adanya ajang lomba dalam PKB, sejumlah seni tradisi seperti tari barong lebih banyak digeluti generasi tua. Kini, generasi muda semakin banyak tampil sebagai penari dan pelaku seni.
Media Massa Bagian dari Ekosistem Budaya
Peran media juga menjadi sorotan. Dalam diskusi “Peran Media Massa dalam Publikasi dan Dokumentasi”, disebutkan media tidak boleh hanya diposisikan sebagai penyampai informasi, tetapi sebagai bagian dari kerja kebudayaan.
Tanpa publikasi media, gaung PKB tidak akan menjangkau masyarakat luas. Media memiliki tugas lebih besar, bukan hanya memberitakan jadwal pertunjukan, tetapi membangun wacana budaya, mendokumentasikan perjalanan seni, serta menjadi ruang refleksi perkembangan kebudayaan Bali.
Karena itu, muncul gagasan agar dukungan terhadap kerja media dalam PKB mendapat perhatian lebih serius, bahkan bila perlu diperkuat melalui regulasi.
Magnet PKB Masih Kuat
Di tengah berbagai catatan tersebut, daya tarik PKB tetap tidak terbantahkan. Antusiasme masyarakat terlihat dari padatnya penonton setiap lomba seni di panggung terbuka Ardha Candra Taman Budaya Bali. Lomba Bapang Barong, Balaganjur, dan berbagai kesenian lainnya selalu menyedot perhatian ribuan penonton.
Seniman sekaligus juri lomba Balaganjur, Nyoman Sutama, mengatakan antusias masyarakat menunjukkan bahwa lomba seni dalam PKB masih menjadi magnet utama.
“Jika ada lomba Balaganjur dan Bapang Barong, penonton sudah memenuhi Gedung Ardha Candra sejak sore sebelum acara dimulai,” katanya.
PKB XLVIII 2026 melibatkan lebih dari 2.900 seniman dan mencatat sekitar 1,8 juta kunjungan. Jumlah wisatawan asing yang hadir juga meningkat menjadi 5.743 orang, dibanding tahun sebelumnya sekitar 2.400 orang.
Dari sisi ekonomi kreatif, jumlah stan kuliner meningkat dari 52 stan pada 2025 menjadi 75 stan pada 2026 dengan transaksi mencapai lebih dari Rp5 miliar. Sementara omzet Industri Kecil Menengah (IKM) yang melibatkan 124 lembaga mencapai sekitar Rp11,3 miliar.
Gubernur Sentil Pejabat yang Absen
Saat menutup PKB XLVIII 2026 di Panggung Ardha Candra Taman Budaya Bali, Sabtu (11/7/2026), Gubernur Bali Wayan Koster mengapresiasi seluruh pihak yang terlibat dalam suksesnya pelaksanaan PKB.
Ia mengakui semangat seniman tetap tinggi meski persiapan karya membutuhkan waktu berbulan-bulan. Dukungan pemerintah kabupaten/kota melalui penganggaran juga mendapat apresiasi.
Namun, Koster memberikan catatan keras kepada pejabat yang tidak pernah hadir menyaksikan penampilan duta daerahnya di PKB.
Menurutnya, seorang pemimpin Bali harus memiliki kecintaan yang utuh terhadap budaya.
Seniman telah bekerja keras menghadirkan karya terbaik. Karena itu, kehadiran pemimpin untuk memberikan dukungan dan apresiasi menjadi bagian penting dalam menjaga ekosistem budaya.
“Ketika seniman sudah tampil sebulan di PKB, kemudian pejabatnya tidak hadir menonton, itu kebangetan,” menjadi pesan keras bahwa budaya tidak cukup hanya didukung melalui anggaran, tetapi juga membutuhkan kepedulian nyata.
PKB telah membuktikan dirinya sebagai urat nadi budaya Bali. Tantangan ke depan adalah memastikan festival ini tidak hanya semakin besar secara panggung, tetapi juga semakin kuat secara pemikiran, pendanaan, dokumentasi, dan kecintaan seluruh elemen terhadap budaya Bali. (*)








