
DENPASAR – Perkembangan ekonomi digital mendorong generasi muda Bali semakin aktif membangun usaha melalui media sosial, perdagangan elektronik, hingga berbagai platform digital. Namun, meningkatnya akses layanan keuangan perlu diimbangi dengan pemahaman agar masyarakat mampu mengambil keputusan finansial secara bijak.
Berdasarkan Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2025 yang dirilis Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama Badan Pusat Statistik (BPS), tingkat inklusi keuangan nasional mencapai 80,51 persen, sementara literasi keuangan berada di angka 66,46 persen. Hal ini menunjukkan masih adanya kesenjangan antara kemudahan akses layanan keuangan dengan pemahaman masyarakat dalam menggunakannya.
Menjawab tantangan tersebut, PT Indonesia Fintopia Technology (Easycash) menggandeng United In Diversity Foundation (UID) dan Asosiasi Fintech Indonesia (AFTECH) menghadirkan kampanye literasi keuangan melalui Modul Bijak Keuangan (MOJANG) dan ChatPindar, sebuah platform edukasi finansial berbasis kecerdasan buatan (AI).
Inovasi tersebut diperkenalkan dalam kegiatan UID Talk x Easycash bertajuk “Adulting 101: How to Spend Smart and Manage Wisely” di UID Bali Campus, Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Kura Kura Bali, Senin (6/7/2026).
Kegiatan ini menjadi wadah edukasi bagi generasi muda untuk memahami pengelolaan keuangan pribadi, mengenali manfaat serta risiko layanan finansial digital, dan membangun kebiasaan keuangan sehat sejak dini.
Kepala OJK Provinsi Bali, Parjiman, mengatakan peningkatan akses layanan keuangan digital harus diikuti dengan penguatan literasi keuangan.
“Pemahaman yang memadai diperlukan agar masyarakat mampu mengenali manfaat, risiko, hak, dan kewajibannya sebagai konsumen. Kolaborasi berbagai pihak menjadi penting untuk memperkuat literasi keuangan, khususnya bagi generasi muda,” ujarnya.
Direktur Eksekutif AFTECH, Mercy Simorangkir, menegaskan literasi keuangan bukan hanya tentang mengenal produk finansial, tetapi juga kemampuan mengambil keputusan secara tepat.
“Generasi muda perlu memahami cara mengelola keuangan pribadi, mengetahui manfaat dan risiko fintech, serta menggunakan layanan keuangan sesuai kebutuhan,” katanya.
Sementara itu, Komisaris Utama Easycash, Jimmy Muhamad Rifai Gani, menjelaskan MOJANG hadir sebagai panduan edukasi finansial yang praktis dan dekat dengan kehidupan sehari-hari. Sedangkan ChatPindar memberikan akses informasi terkait layanan pinjaman digital melalui teknologi AI yang mudah dipahami masyarakat.
Menurut Jimmy, semakin besar penggunaan layanan keuangan digital, semakin penting pula membangun kesadaran agar penggunaannya dilakukan secara bertanggung jawab.
Pentingnya Rekam Jejak Kredit Sejak Muda
Dalam kegiatan tersebut, peserta juga mendapat edukasi mengenai pentingnya menjaga rekam jejak kredit. Jimmy menyebut kebiasaan finansial yang dibangun sejak muda akan berpengaruh terhadap peluang ekonomi seseorang di masa depan.
“Menjaga reputasi kredit bukan hanya memenuhi kewajiban pembayaran, tetapi juga membangun kepercayaan yang dapat membuka peluang untuk pendidikan, usaha, maupun kebutuhan produktif lainnya,” ujarnya.
President United In Diversity Foundation, Tantowi Yahya, menilai kemampuan mengelola keuangan merupakan keterampilan hidup yang harus dipersiapkan sejak dini.
“Menjadi dewasa bukan hanya soal usia, tetapi kesiapan menghadapi berbagai hal, termasuk mengelola penghasilan dan membangun masa depan finansial,” katanya.
Bali yang terus berkembang sebagai pusat ekonomi kreatif dan kewirausahaan juga membutuhkan generasi muda yang memiliki pemahaman finansial yang baik. Berdasarkan Bali Satu Data, sekitar 9,89 persen penduduk Bali berprofesi sebagai wirausaha.
Melalui program Adulting 101, Easycash bersama UID Foundation, AFTECH, dan OJK Provinsi Bali berharap generasi muda dapat menjadi penggerak terciptanya ekosistem keuangan digital yang sehat, dengan mengedepankan prinsip bijak dalam menggunakan layanan finansial. (*)








