
KLUNGKUNG – Peluang terwujudnya pembangunan Jembatan Ceningan-Lembongan semakin terbuka. Proyek strategis yang diharapkan menjadi solusi konektivitas antar pulau tersebut kini telah masuk tahap pengusulan melalui aplikasi Sinergitas Transparansi Integrasi Akuntabel (SiTIA) dalam Program Instruksi Presiden (Inpres).
Kepala Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Klungkung, I Made Jati Laksana, mengatakan usulan pembangunan jembatan permanen itu sedang diproses melalui aplikasi SiTIA sesuai mekanisme yang ditetapkan Kementerian Pekerjaan Umum.
“Jembatan Nusa Lembongan-Nusa Ceningan masih tahap pengusulan lewat aplikasi SiTIA melalui Program Instruksi Presiden yang rencananya dilaksanakan tahun 2026,” ujarnya, Minggu (21/6/2026).
Proyek yang diperkirakan menelan anggaran sekitar Rp132 miliar tersebut diharapkan mendapat dukungan pendanaan dari pemerintah pusat. Jembatan permanen dirancang sepanjang sekitar 190 meter dengan lebar 9 meter sehingga dapat dilalui kendaraan roda empat.
Kehadiran jembatan baru dinilai penting untuk mendukung konektivitas, distribusi logistik, serta pengembangan pariwisata di kawasan Nusa Penida. Selama ini akses antara Nusa Lembongan dan Nusa Ceningan hanya mengandalkan Jembatan Kuning atau sering disebut Jembatan Cinta yang hanya bisa dilalui kendaraan roda dua dan pejalan kaki.
Jati Laksana menambahkan desain jembatan telah disiapkan Pemerintah Provinsi Bali dan terintegrasi dengan pengembangan kawasan, termasuk keberadaan Pelabuhan Bias Munjul. Sementara Jembatan Kuning tetap akan dipertahankan sebagai ikon wisata.
Bupati Klungkung I Made Satria menyebut pembangunan jembatan juga sejalan dengan rencana menjadikan Nusa Lembongan sebagai kawasan green island berbasis kendaraan listrik. Dengan dukungan infrastruktur dan transportasi ramah lingkungan, kawasan Lembongan-Ceningan diharapkan semakin bergengsi sebagai destinasi wisata unggulan. (yan)








