
DENPASAR – Dibalik kemegahan dan semarak pertunjukan seni diajang Pesta Kesenian Bali (PKB) setiap tahunnya. Perlu ruang bagi maestro dan penggagas seni untuk mendokumentasikan dan membagikan pemikiran terhadap karya yang mereka ciptakan. Hal ini dinilai penting untuk menjaga peradaban Bali dan Eksistesni PKB hingga puluhan tahun kedepan.
Hal ini mengemuka dalam Diskusi Budaya yang digelar Komunitas Wartawan dan Penulis Budaya (Kawiya) Bali bersama Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Bali di Gedung Perpustakaan Taman Budaya Bali, Art Center, Denpasar, Jumat (19/6/2026).
Disampaikan oleh Narasumber Dr. I Kadek Suartaya, menilai selama ini PKB lebih banyak menampilkan kemeriahan pertunjukan, namun belum memberikan ruang yang cukup bagi para maestro dan penggagas seni untuk mendokumentasikan serta membagikan pemikiran mereka.
Menurutnya, pemikiran para seniman merupakan aset peradaban yang tidak kalah penting dibanding karya seni yang dipentaskan di panggung. Sebab, di balik setiap karya seni terdapat gagasan, pengetahuan, dan kearifan yang menjadi fondasi penciptaannya.
Ia mencontohkan lahirnya Adi Merdangga pada 1984 yang berawal dari gagasan Gubernur Bali saat itu, Ida Bagus Mantra, untuk menghadirkan bentuk drumband berkarakter tradisional namun tetap modern dan inovatif. Gagasan tersebut kemudian diterjemahkan oleh para seniman dan akademisi seni hingga menjadi sebuah karya monumental.
“Yang sering terlupakan adalah proses berpikir di balik lahirnya karya tersebut. Jika pemikiran para maestro tidak didokumentasikan, kita akan kehilangan pengetahuan yang sangat berharga bagi generasi berikutnya,” katanya.
Suartaya menegaskan bahwa para seniman, maestro, dan penggagas seni merupakan penjaga memori budaya Bali. Mereka tidak hanya berkarya di panggung PKB, tetapi juga aktif di tengah masyarakat melalui kegiatan ritual, ngayah, dan berbagai aktivitas budaya lainnya.
Karena itu, ia mendorong agar PKB ke depan tidak hanya menjadi ruang apresiasi karya seni, tetapi juga menjadi ruang dokumentasi, diskusi, dan pewarisan gagasan para tokoh seni Bali.
“Kalau kita ingin PKB tetap relevan hingga puluhan tahun mendatang, maka yang harus dirawat bukan hanya karya-karyanya, tetapi juga pemikiran, gagasan, dan pengetahuan para maestro yang melahirkan karya-karya tersebut,” pungkasnya.
Sementara Prof. Arya Sugiartha mengungkapkan bahwa lahirnya PKB tidak dapat dilepaskan dari kondisi Bali pasca tragedi politik 1965-1966 yang menyebabkan banyak seniman menjadi korban. Situasi tersebut mendorong para tokoh Bali saat itu mencari jalan untuk menyelamatkan keberlangsungan seni dan regenerasi seniman.
Menurutnya, langkah awal diwujudkan melalui pembentukan Listibiya dan pendirian Akademi Seni Tari Indonesia (ASTI) pada 1967. Lembaga pendidikan seni itu dibangun untuk memastikan keberlanjutan proses pewarisan pengetahuan dan keterampilan seni Bali.
“PKB sesungguhnya merupakan kelanjutan dari berbagai upaya yang telah dirintis sebelumnya, termasuk Merdangga Utsawa Gong Kebyar dan Pesta Seni di Werdi Budaya. Pada 1979, Gubernur Ida Bagus Mantra kemudian mengukuhkannya dengan nama Pesta Kesenian Bali,” jelas mantan Kadis Kebudayaan Bali itu.
Ia menambahkan, tujuan awal PKB adalah menyelamatkan seniman dan menjaga keberlangsungan tradisi seni Bali. Seiring perkembangan zaman, PKB kemudian bertransformasi menjadi ekosistem kebudayaan yang lebih luas, tidak hanya sebagai ruang pertunjukan, tetapi juga wahana dialog, edukasi, dokumentasi, dan pewarisan budaya.
Dalam konteks kekinian, Arya menilai peran seniman senior tetap sangat penting sebagai penjaga memori budaya, sumber pengetahuan, sekaligus pembimbing bagi generasi muda. Mereka kini lebih banyak berperan sebagai kurator, juri, pembina, dan narasumber, sementara pelaksanaan karya dan pertunjukan banyak dilakukan oleh seniman muda.
“Seniman senior menjadi transmisi pengetahuan, termasuk etika berkesenian. Kreativitas harus tetap berjalan, tetapi tidak boleh mengabaikan nilai-nilai dan etika budaya Bali,” ujarnya.
Di sisi lain, ia mengakui generasi muda memiliki keunggulan berupa akses pendidikan formal seni, penguasaan teknologi, jaringan global, serta keberanian melakukan eksplorasi dan kolaborasi lintas disiplin. Namun, kondisi tersebut juga menghadirkan tantangan agar inovasi tidak menjauh dari akar tradisi.
Karena itu, Arya mengusulkan sejumlah strategi keberlanjutan PKB, antara lain program Maestro dan Murid Kreatif, digitalisasi dokumentasi karya dan pengetahuan seni, kolaborasi lintas generasi, serta dialog budaya yang mempertemukan seniman senior dan muda.
“Keberhasilan PKB ke depan sangat ditentukan oleh kemampuan menjaga keseimbangan antara pelestarian dan inovasi. Inovasi bukan memutus rantai tradisi, melainkan mentransformasikan nilai tradisi ke dalam bahasa artistik yang relevan dengan zamannya,” tegasnya.
Ketua Panitia Diskusi Budaya yang juga Pembina Kawiya Bali I Made Subrata menyampaikan, kegiatan ini merupakan salah satu bentuk sumbangsih Kawiya Bali bekerjasama dengan PWI Bali dalam memajukan kebudayaan Bali, sesuai dengan misi PKB yakni menggali, melestarikan dan mengembangkan kesenian Bali.
Diskusi Ini diharapkan dapat meningkatkan literasi budaya, sekaligus membuka ruang dialog, refleksi atau evaluasi perjalanan PKB menuju 50 tahun dalam mengemban misi tersebut.
Sebelumnya, Kawiya Bali sudah beberapa kali ikut berpartisipasi dalam perayaan budaya di Bali. Dalam Rangka Bulan Bahasa Bali Februari 2026, Kawiya Bali melakukan Pementasan Teater Berjudul “Jaratkaru”.
Kemudian dalam rangka Festival Seni Bali Jani 2023, Kawiya Bali melakukan pementasan Teater Berjudul “Nguber Berita Ke Nusa”.
Pada PKB 2025, Kawiya Bali melakukan pementasan “Arja Tak Jadi Mati” sekaligus diskusi, berkolaborasi dengan Gong Suling Gita Semara Peliatan Ubud, Gianyar.
“Kali Ini Serangkaian PKB Ke-48 Tahun 2026, Kawiya Bali Bekerjasama dengan PWI Bali menggelar Diskusi Budaya, sebanyak 5 kali, dengan membahas lima topik berbeda, ” ujar Subrata yang Pimred baliprawara.com ini. (*)








