
KARANGASEM – Jalan sempit di Banjar Dinas Yeh Poh, Desa Manggis, siang itu terasa lebih ramai dari biasanya. Di sebuah rumah sederhana berdinding seadanya, langkah kaki rombongan Forum PUSPA Provinsi Bali berhenti. Di sinilah, cerita tentang angka stunting berubah menjadi wajah dan kehidupan nyata.
Seorang balita, Komang Dwi Arkana Putra, baru berusia 1,6 tahun. Berat badannya masih 8 kilogram—angka yang bagi sebagian orang hanya statistik, tetapi bagi keluarganya adalah kekhawatiran sehari-hari.
Arkana adalah anak kelima dari pasangan I Ketut Sudarta dan Ni Nengah Leonawati. Keduanya menggantungkan hidup sebagai juru ngadas—merawat sapi milik orang lain—serta membuat sarana upakara. Penghasilan tak menentu membuat mereka harus berbagi ruang dengan keluarga besar dalam rumah yang terbatas.
Ketua Forum PUSPA Bali, Ny. Seniasih Giri Prasta, datang langsung melihat kondisi itu, Rabu (29/4/2026). Ia menyusuri bagian rumah, berhenti di sebuah dapur kecil yang dipenuhi arang dan asap sisa pembakaran.
Ruang dapur itu sempit, gelap, dan kurang ventilasi. Di sudut lain, sebuah kamar berukuran sekitar 4×4 meter menjadi tempat beristirahat sekaligus berkumpul keluarga.
“Dapurnya tolong dibersihkan. Tidak baik untuk anak-anak yang masih dalam masa pertumbuhan,” ujarnya dengan nada tegas namun penuh kepedulian mengajak semua yang hadir membersihkan dapur itu.
“Apalagi Arkana berisiko stunting. Jangan sampai kondisi lingkungan membuat anak kehilangan nafsu makan, ”ujarnya semabil menyeka air mata yang menetes.
Bantuan yang dibawa hari itu memang penting paket sembako, beras, susu, popok, hingga kasur.
Namun yang lebih berarti adalah perhatian dan edukasi yang disampaikan langsung di ruang-ruang kehidupan keluarga tersebut.
Kepala Dinas Sosial dan P3A Provinsi Bali, A.A. Sagung Mas Dwipayani, menambahkan bahwa lingkungan tempat tinggal memiliki peran besar dalam tumbuh kembang anak. Dapur kotor dan kamar pengap, katanya, bisa berdampak langsung pada kesehatan balita.
Rencana bantuan bedah rumah pun mulai disiapkan, meski baru bisa direalisasikan pada 2027 mendatang.
Di lokasi yang tak jauh dari sana, rombongan juga mengunjungi balita lain. Nengah Arya Wiguna, baru berusia satu tahun, lahir prematur dan kini memiliki berat badan 8,5 kilogram.
Ia tidak mengonsumsi ASI sejak lahir dan mengalami gangguan sensorik pada penglihatan.
Orang tuanya, Nengah Derada dan Ni Kadek Sintia Deviyani, menerima bantuan serupa susu, popok, dan beras sebagai bentuk dukungan awal.
Namun lagi-lagi, pesan utama bukan hanya soal bantuan. Ini tentang pendampingan.
“Jangan sampai terlambat ke posyandu. Di sana dipantau tinggi, berat, dan gizinya. Vitamin juga diberikan,” tegas Dwipayani.
Posyandu, dalam konteks ini, bukan sekadar layanan rutin. Ia menjadi garis depan dalam mencegah stunting—tempat di mana tumbuh kembang anak dipantau, dan intervensi bisa dilakukan lebih dini.
Kunjungan hari itu memperlihatkan bahwa persoalan stunting tidak berdiri sendiri. Ia berkaitan erat dengan kemiskinan, lingkungan, pola asuh, hingga akses layanan kesehatan.
Di balik angka-angka laporan, ada dapur yang perlu dibersihkan, kamar yang perlu diperbaiki, dan orang tua yang perlu didampingi.
Dan di tengah segala keterbatasan itu, harapan tetap dijaga—oleh kader posyandu, oleh pemerintah, dan oleh tangan-tangan yang datang mengetuk pintu, memastikan tidak ada anak yang tumbuh sendirian dalam risiko. (jay/jon)








