
DENPASAR – Konferda dan Konfercab PDI Perjuangan Provinsi Bali berlangsung di Sunset Road Convention Center, Kuta, Denpasar, Sabtu (18/10/025).
Tampak hadir jajaran DPP PDI Perjuangan, antara lain Djarot Saiful Hidayat (Bidang Ideologi), Andreas Hugo Pereira (Bidang Keanggotaan dan Organisasi), Adian Napitupulu (Sekretaris Bidang Komunikasi), dan Darmadi Durianto (Bidang Industri dan BUMN). Kegiatan ini diikuti oleh para utusan dari Konferda dan Konfercab se-Bali.
Ketua DPD PDI Perjuangan Bali, Wayan Koster, dalam sambutannya mengatakan bahwa pemilihan hari pelaksanaan kegiatan ini disesuaikan dengan kearifan lokal Bali. “Hari ini diputuskan oleh Komandan PDI Perjuangan di Bali, Prananda Prabowo,” ujarnya.
Koster menegaskan bahwa PDIP Bali sangat solid dan kompak, termasuk dalam proses penjaringan calon ketua DPD.
Sementara itu, sambutan DPP disampaikan oleh Djarot Saiful Hidayat. Ia mengapresiasi kekompakan dan keberhasilan PDIP Bali, namun sekaligus menyentil persoalan kerusakan lingkungan di Bali yang menyebabkan banjir bandang pada 10 September 2025 lalu.
Menurut Djarot, penting bagi partai menentukan “hari baik” dalam membangun barisan lima tahun ke depan. “Seperti halnya penanggalan Bali dan Jawa, semuanya harus dihitung dengan matang karena ini akan menentukan kerja kita lima tahun mendatang,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan bahwa dari sembilan kabupaten/kota di Bali, PDIP hanya kalah di Karangasem. Hal itu menunjukkan PDIP Bali kompak, namun jangan sampai membuat kader lengah. “Kita tidak boleh meremehkan lawan politik, apalagi bertikai di internal,” tegasnya.
Djarot menyebut Bali dikenal sebagai “kandang banteng” yang sulit dikalahkan, namun kemenangan harus tetap disertai evaluasi.
“Meski menang, ada dua kabupaten yang kursinya turun. Kekalahan di Karangasem juga harus menjadi bahan evaluasi dalam Konferda ini,” katanya.
Menyampaikan pesan dari Ketua Umum Megawati Soekarnoputri, Djarot meminta agar PDIP Bali memberi perhatian serius pada persoalan lingkungan. Penting mulai menyusun politik lingkungan, persampahan, hingga tata ruang.
“Banjir bandang kemarin menelan korban. Apakah kita hanya menyalahkan alam? Tidak. Yang salah adalah kita, karena tidak menjaga dan membiarkan nafsu serakah menguasai, mengalihfungsikan lahan produktif,” ujarnya.
Djarot menegaskan pentingnya disiplin menjaga alam agar kejadian serupa tidak terulang. “Seluruh kader harus disiplin menjaga alam, tidak mengalihfungsikan lahan subur menjadi hotel, restoran, villa, dan akomodasi lainnya,” katanya.
Ia menambahkan bahwa hal itu berkaitan erat dengan kedaulatan pangan dan kelestarian lingkungan. “Di Bali ada puluhan sungai. Jika terjadi banjir besar, pasti ada yang salah dalam pengelolaannya,” ujarnya.

Menurut Djarot, Bali merupakan pulau yang ideal untuk mengaplikasikan cita-cita Bung Karno. “Bali harus menyusun pola pembangunan semesta berencana demi generasi mendatang, untuk mewujudkan masyarakat yang gemah ripah loh jinawi,” katanya.
Dalam ajaran Bung Karno, lanjut Djarot, Pancasila adalah sosialisme Indonesia, bukan kapitalisme.
“Yang kita inginkan bukan kapitalisme Indonesia. Bung Karno pernah menyebut istilah margadung atau marhaenisme gadungan — orang yang tampak Pancasilais, tapi gaya hidupnya tidak mencerminkan Pancasila. Ada juga markapit, marhaenisme kapitalis — tingkah lakunya kapitalis, gaya hidupnya kapitalis, dan menghisap rakyat,” ujar Djarot.
Djarot juga menegaskan bahwa Bali menjadi daerah pertama yang menggelar Konferda dan Konfercab dari ratusan daerah di Indonesia. Ia menilai konferensi di Bali menjadi contoh penerapan budaya tanpa mencemari citra Bali sebagai daerah pariwisata.
Ia juga mengapresiasi kerja kader di tingkat anak ranting, ranting, dan PAC yang bekerja tanpa pamrih. Djarot kemudian membuka acara secara resmi dan meminta agar dalam penyusunan kepengurusan nanti, anak muda dan tokoh budaya diakomodasi.
“Harus ada perwakilan dari berbagai daerah seperti Jawa dan daerah lainnya. Tahun 2029, 50 persen pemilih adalah generasi muda, maka mereka harus disiapkan sejak sekarang,” tutupnya. (jay/jon)








