
BADUNG – Sejumlah pohon kelapa ditanam berjejer di area pantai timur Tanjung Benoa, depan sebuah akomodasi wisata. Hal itu memicu pertanyaan besar di masyarakat, karena dikhawatirkan merupakan bagian dari upaya penyerobotan berkedok pelestarian lingkungan.
Menyikapi hal tersebut, Bendesa Adat Tanjung Benoa, I Made ‘Yonda’ Wijaya, mengaku telah melayangkan surat kepada pihak usaha bersangkutan. Surat itu berisi arahan untuk segera memindahkan pohon-pohon kelapa yang telah ditanam.
“Jadi sebenarnya sudah kita surati, agar memindahkan pohon-pohon kelapa yang ditanam itu. Dalihnya melestarikan, tapi ini adalah penguasaan fisik yang sekarang ini sedang ramai dibicarakan di pemerintahan Kabupaten Badung,” ungkap Yonda yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua II DPRD Kabupaten Badung itu.
Menurut Yonda, investor harusnya turut menjaga eksistensi ruang publik. Bila ditemukan indikasi penyerobotan, pihak berwenang harus memberi sanksi tegas. “Jadi harus harmoni. Siapapun dia, tidak ada kebal terhadap permasalahan,” tegasnya.
Dijelaskan Yonda, area pantai yang kini ditanami pohon kelapa tersebut selama ini memiliki peran penting bagi masyarakat setempat. Area itu kerap dimanfaatkan untuk berbagai kegiatan, seperti lomba Agustus-an maupun olahraga seperti sepak bola pantai. “Artinya pesisir Tanjung ini sangat berkontribusi terhadap pelestarian-pelestarian itu dan agenda-agenda nasional. Apalagi mengolahragakan masyarakat. Nah, itu kami harus tetap jaga,” sebutnya.
Yonda menegaskan, hal tersebut seharusnya dapat dipahami dan dihormati oleh para investor, bukan malah melakukan tindakan yang berpotensi menghilangkan tradisi masyarakat. “Jadi dari sudut pandang saya selaku wakil rakyat, (penyerobotan) ini sudah tidak bisa direspon positif. Karena selain melakukan penguasaan fisik, ini juga merupakan upaya peniadaan tradisi,” pungkasnya. (adi)








