
CONTENT Creator asal Malaysia Aisar Khaledd sedang ramai menjadi perbincangan. Ia dianggap “mengganggu” saat memberikan bantuan untuk warga terdampak bencana Banjir di Denpasar Bali. Video yang beredar memperlihatkan Aisar Khaledd membagikan sejumlah bantuan pakaian kepada warga terdampak menggunakan mobil pick up di tengah jalan. warga yang sebagian besar ibu-ibu dan anak-anak itu berebut mengerumuni mobil pick up hingga menutupi jalan.
Sebagai content creator, Aisar tentu sudah siap dengan camera take untuk merekam kepeduliannya. Berbarengan dengan itu menurut keterangan yang dihimpun, warga juga sedang melakukan bersih-bersih pasca banjir. Kegiatan kepedulian Aisar Khaled itu pun dinilai mengganggu mobilitas warga membersihkan lingkungan agar kondisi segera pulih pasca banjir.
Aisar Khaledd pun diusir, ia dinilai hanya mencari panggung di tengah bencana. “Jangan kamu eksis di sini,” kata warga protes ke Aisar. “Siap siap makasih bang, ” ujar Aisar dari atas pick up.
Salah seorang dalam video nyeletuk membela kegiatan Aisar, “orang ini lagi berbagi-bagi, ” Celetuknya. “Bukan gitu orang lagi bersih-bersih untuk masyarakat ini loh,” warga yang protes itu menyanggahnya. “Sana kamu! ” warga itu memintanya pergi.
“Siap bang terimakasih,” Sahut content creator yang sering bagi-bagi uang itu. “Bikin macet kamu disini,” ujar kembali warga yang protes itu mempertegas keberatannya.
Ternyata tidak hanya kerumunan warga, motor-motor juga diparkir serampangan. “Siapa yang punya motor disini pindahin dulu, ” teriak warga yang protes itu. “Woi pergi-pergi!, ” teriaknya lagi. Aisar berkomentar, “tidak ada hormat memang, nggak bersyukur memang, ” ujarnya dalam video.
Belum diketahui lokasi video itu diambil. Video yang beredar di berbagai media sosial itu pun memantik beragam komentar. Ada yang pro dan kontra.
Banyak yang menghujat warga yang protes itu, karena dinilai tidak bersyukur. Namun banyak juga yang menyalahkan apa yang dilakukan Aisar Khalid. Menurut mereka tidak ada yang salah jika Aisar berbagi, namun jika benar berempati dan berbagi lebih baik bantuanya disalurkan di posko resmi. Sehingga pembagianya tidak mengganggu kegiatan warga dan merata untuk mereka yang benar-benar membutuhkan.
Pola Pikir Masyarakat Bali
Dalam kasus itu membuka sisi menarik pola pikir warga Bali. Saya coba analisis tidak hanya melalui percakapan dalam video itu , tapi bagaimana komentar di media sosial. Warga terlihat seperti tidak membutuhkan bantuan. Meski mengalami bencana banjir.
Namun jika dilihat lebih dalam banjir yang terjadi tidak membuat situasi chaos. Memang di beberapa titik sangat parah bahkan sampai merenggut korban jiwa. Sementara di lokasi video yang diambil itu, belum diketahui banjir seperti apa yang warga alami.
Meski demikian situasi ekonomi masih stabil. Warga di lokasi video itu yang terdampak merasa tidak cukup hanya berpangku tangan menunggu uluran tangan. Namun mereka saling membahu untuk mempercepat pemulihan kondisi pasca banjir.
Tersirat juga dalam percakapan di video itu, warga merasa kondisi masih terkendali. Lebih cepat pemulihan lingkungan lebih cepat pula mereka bisa beraktivitas normal. Menariknya, warga tidak memanfaatkan situasi itu untuk “memeras” bantuan.
Berbagai Komentar di media sosial pun sepakat. Masih ada yang lebih layak untuk di bantu. Lebih tepatnya Aisar Khaled menyalurkan bantuan ke posko resmi. Sebab titik banjir sangat banyak dengan berbagai kondisi, mulai sedang hingga parah seperti di kawasan bantaran Tukad Badung. (*)








