
DENPASAR – Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali bersinergi dengan Pemerintah Provinsi Bali yang tergabung dalam Pusat Investasi Kerthi Bali Sadhana (PIKBS) menyelenggarakan Bali Investment Challenge (BIC) 2026 bertema “Driving Economic Transformation through Investment toward Nangun Sat Kerthi Loka Bali” pada 27 April 2026.
Penyelenggaraan BIC bertujuan untuk memetakan sekaligus menjaring profil investasi unggulan di kabupaten/kota se-Provinsi Bali. Hadir dalam pembukaan kegiatan tersebut Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali, Ronald D. Parluhutan, Asisten Perekonomian dan Pembangunan Provinsi Bali, Luh Ayu Aryani, serta sejumlah Organisasi Perangkat Daerah (OPD) provinsi dan kabupaten/kota terkait.
Dalam sambutannya, Ronald D. Parluhutan menyampaikan bahwa perekonomian Bali tumbuh kuat sebesar 5,82 persen (year on year/yoy) pada tahun 2025, yang menempatkan Bali sebagai daerah dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi kelima secara nasional.
Menurutnya, kuatnya pertumbuhan ekonomi Bali tidak terlepas dari peran investasi sebagai engine of growth. Investasi sendiri memberikan kontribusi sebesar 27,57 persen terhadap pertumbuhan ekonomi Bali.
Sebagai upaya menjaga momentum pertumbuhan sekaligus menciptakan ekonomi yang berkelanjutan, BIC 2026 digelar untuk menjaring serta meningkatkan ketersediaan proyek investasi potensial.
“BIC diharapkan menjadi wadah strategis untuk penjaringan investasi unggulan di Bali yang mendukung realisasi investasi,” ujar Ronald.
Ia menambahkan, BIC merupakan bagian dari rangkaian Bali Jagadhita 2026 pada pilar investasi, dengan puncak acara yang akan digelar pada Juni 2026 mendatang.
Sementara itu, Asisten Perekonomian dan Pembangunan Provinsi Bali, Luh Ayu Aryani, menegaskan bahwa investasi menjadi salah satu kunci transformasi ekonomi Kerthi Bali.
Menurutnya, investasi di Bali wajib memperhatikan harmoni alam, manusia, dan budaya, sehingga tidak semata-mata mengejar pertumbuhan angka ekonomi.
Kehadiran BIC dinilai sangat strategis, termasuk untuk mendukung pemerataan ekonomi Bali yang selama ini masih terpusat pada sektor pariwisata, sekaligus mendorong inovasi di sektor energi baru terbarukan (EBT), industri kreatif, pertanian, dan sektor lainnya.
Luh Ayu Aryani juga menekankan pentingnya aspek clean and clear guna meyakinkan investor bahwa investasi di Bali aman, transparan, dan bertanggung jawab.
Acara kemudian dilanjutkan dengan sosialisasi dan capacity building yang menghadirkan sejumlah narasumber kompeten di bidangnya.
Narasumber pertama, Dally Ramdhan Sugandria selaku Vice President of Guidance & Consultation PT Penjaminan Infrastruktur Indonesia (PT PII), menjelaskan berbagai skema pembiayaan infrastruktur daerah, seperti Kerja Sama Pemerintah Daerah dan Badan Usaha (KPDBU), swasta, pinjaman daerah, APBD/APBN, dan lainnya.
Ia juga memaparkan secara rinci skema KPDBU sebagai alternatif pembiayaan daerah, khususnya di tengah keterbatasan fiskal.
Narasumber kedua, Charly Raya selaku Direktur PT Raya Investama Strategis (EDC Forum), memaparkan strategi promosi investasi sekaligus menjelaskan preferensi dan ekspektasi investor terhadap peluang investasi yang ditawarkan.
Menurutnya, positioning Bali sangat strategis sebagai destinasi yang telah dikenal secara global.
Materi kemudian ditutup oleh Susy M. Napitupulu selaku Direktur Utama PT Hotel Internasional Sanur Indonesia (PT HISI/KEK Kesehatan Sanur).
Susy membagikan success story pengembangan proyek investasi, mulai dari tahap perencanaan, penguatan aspek clean and clear, hingga strategi kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan dan investor, sehingga proyek dapat berjalan optimal dan memberikan dampak ekonomi berkelanjutan.
Sebagai tindak lanjut kegiatan ini, tahapan berikutnya adalah penyampaian profil proyek investasi oleh OPD kepada PIKBS pada 11 Mei 2026, dilanjutkan dengan penetapan proyek investasi potensial, pembuatan katalog dan profil investasi, hingga showcasing proyek investasi pada strategic flagship event Bali Jagadhita 2026 pada Juni mendatang.
Melalui BIC 2026, diharapkan profil investasi potensial di Bali semakin kuat dan mampu mendorong percepatan realisasi investasi guna mendukung pertumbuhan ekonomi yang tangguh dan berkelanjutan. (dha)








